Selasa, 03 Juli 2012

migas dan sumatera selatan


BAB I
PENDAHULUAN
                                                      
A.    Latar Belakang
1.      Provinsi Sumatera Selatan
Privinsi Sumatera Selatan  mempunyai wilayah seluas 109.254 km2, beribukota di Palembang. Palembang didirikan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 25 Juni 683. Nama Palembang, konon berasal dari kata Limbung, yang artinya membersihkan biji emas. Daerah ini dahulua dikenal sebagai Swarnadwipa atau Swarnabhumi yang berarti Pulau Emas atau Negeri Emas.
Dahulu Provinsi Sumatera Selatan merupakan wilayah bekas jajahan kerajaan Sriwijaya. Bekas pusat kerajaan Sriwijaya ini dipisahkan oleh aliran Sungai Musi. Oleh karena itu maka dibuatlah sebuah jembatan untuk menghubungkan kedua sisi kota. Jembatan Ampera ini dibangun oleh Pemerintah Indonesia dengan biaya rampasan perang pada tahun 1962. Dengan bentuk jembatan yang sangat khas, maka jembatan ini sering dijadikan “Citra Visual” kota.
2.      Museum Minyak dan Gas Bumi Graha widya Patra
Minyak dan Gas bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang tak dapat diperbarukan. Untuk mendapatkan minyak dan Gas Bumi memerlukan tahapan-tahapan yang pajang. Oleh karena itu Minyak dan Gas Bumi sering mengalami kelangkaan. Pendistribusian Minyak dan Gas Bumi merupakan hal yang sangat penting agar seluruh pelosok wilayah Indonesia dapat menikmati enegri Minyak dan Gas Bumi.
 Minyak dan Gas atau disingkat Migas menjadi komoditas vital bagi suatu negara. Migas merupakan sumber daya alam yang dikuasai oleh Negara. Peranan Migas sangat penting dalam perekonomian nasional Bangsa Indonesia. oleh sebab itu pengelolaan Migas harus dicapai secara maksimal untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Untuk saat ini belum ada enegri yang dapat menandingi hebatnya peranan Minyak dan Gas Bumi.


B.     Rumusan Masalah
1.      Provinsi Sumatera Selatan
1)      Bagaimanakah kondis fisik Provinsi Sumatera Selatan ?
2)      Bagaimanakah sosial dan budaya masyarakat Provinsi Sumatera Selatan ?
3)      Berapakah jumlah penduduk masyarkat Provinsi Sumatera Selatan ?
4)      Bagaimanakah monografi Provinsi Sumatera Selatan ?
5)      Bagaimanakah perekomomian masyarakat Provinsi Sumatera Selatan ?
2.      Museum Minyak dan Gas Bumi
1)      Bagaimana sejarah perkembangan Minyak dan gas Bumi Indonesia ?
2)      Bagaimana proses pengolahan Minyak dan Gas ?
3)      Bagaimana peranan Minyak dan Gas dalam pembangunan ?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Provinsi Sumatera Selatan
1)      Untuk mengetahui kondisi fisik daerah Provinsi Sumatera Selatan
2)      Untuk mengetahui tetang social dan budaya masyarakat Provinsi Sumatera Selatan
3)      Untuk mangatahui jumlah penduduk masyarakat Provinsi Sumatera Selatan.
4)      Untuk mengetahui kondisi monografi provinsi Sumatera Selatan
5)      Dan untuk mengetahui tatang system perekonomian masyarakat Provinsi Sumatera selatan
2.      Minyak dan Gas Bumi
1)      Untuk mengetahui tentang sejarah perkembangan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia
2)      Untuk mengetahui tentang proses pengolahan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia
3)      Untuk mengetahui tantang peranan Minyak dan Gas Bumi dalam pembangunan





BAB II
PEMBAHASAN
                                                         
A.    Sumatera Selatan
1.      Kondisi Fisik Provinsi Sumatera Selatan
Letak geografis Sumatera Selatan luasnya 109.254 Kilometer persegi yang beribukota di Palembang yang berbatasan dengan sebelah Utara Laut Cina Selatan, disebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Bengkulu, disebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, disebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa.
Komposisi tanah pada daerah Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari beberapa elemen antara lain organosol, litosol, alluvial, grey hidromert, humus clay, regosol, andosol, redzina, latesol, lateric, dan podzilic. Terdapat banyak gunung yaitu gunung Dempo (3.159 m), gunungBepagut (2.492 M), gunung Seblat (2.383 M).
Cuaca pada daerah provinsi Sumatera selatan beriklim tropis dengan temperatur berkisar antara 230C – 330C. kelembaban 85%. Curah hujan berkisar antara 2.000 milimeter sampai 3.000 milimeter pertahun, kecepatan angin sekitar 3,23 Km per jam.
Jenis flora dan fauna pada dearah Provinsi Sumatera Selatan yaitu untuk fauna Sumatera Selatan Seperti kayu unglen, petanang, tembesu, rotan, dan anggrek. Fauna dari provinsi Sumatera Selatan yaitu gajah, badak, tapir, rusa, harimau, monyet, buaya, kambing hutan dan simpai.

2.      Kependudukan Provinsi Sumatera Selatan
Luas Sumatera Selatan sekitar 109.245 kilometer persegi dihuni oleh sekitar 6.000.000 jiwa, 750.000 jiwa tinggal di Kota Palembang. Beberapa suku yang ada di Sumatera Seltan antara lain suku Komering, Palembang, Pasemah, Semenda, Ranau Kisan, Ogan dan Lematang. Jumlah populasi di Sumatera Selatan yaitu 5.453.000 pada tahun 1985. Dengan kepadatan yaitu 53 orang per kilometer persegi.
Tingkat pertumbuhan  penduduk masyarakat Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 3,14% pada tahun 1972 sampai tahun 1982. Pemerintahan Sumatera Selatan  terbagai menjadi sebelas kabupaten, serta empat kotamadya, 92 kecamatan dan 2.492 desa. Agama 96,25% Islam, 1,13% Protestan, 0,89 % Khatolik, 0,28% Hindu, dan 1,73% Budha.
Dalam bidang pendidikan Provinsi Sumatera Selatan memiliki Sekolah Dasar berjumlah 4.352 sekolah dengan jumlah guru 31.304 guru, dengan murid berjumlah 1.006.824 murid, sedangkan SLTP berjumlah 616 sekolah dengan guru sebanyak 10.091 orang, dengan jumlah murid 1666.499 pelajar, SMU 121 sekolah dengan jumlah guru 4.051 pengejar, dan murid 69.781 pelajar, dan perguruan tinggi berjumlah 14 perguruan tinggi dengan jumlah dosen 1.459 dan mahasiswa 34.596 mahasiswa.

3.      Sosial dan Budaya Provinsi Sumatera Selatan
a.      System Religi Sumatera Selatan
Agama Islam adalah agama yang dianut oleh masyarakat Sumatera Selatan yang mendukung pola kebudayaan Sumatera Selatan. Terdapat pula agama-agama lainnya, seperti Kristen, Hindu, Budha dan lain-lainnya. Namun, toleransi beragama yang tinggi diantara masyarakat mendukung ketenraman dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Ajaran-ajaran agama Islam beritervensi kuat dalam pola kehidupan masyarakat, hal-hal itu dapat terlihat jelas pada adat istiadat yang berlaku di Sumatera Selatan. Seperti upacara cukuran rambut, khitanan dan adat perkawinan. Pada acara cukuran rambut bayi, selalu diadakan “marhaban” yaitu pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan Shalawat nabi, yang dilakukan bersama oleh para tamu dan keluarga.
Pada saat upacara khitanan di Sumatera Selatan biasanya si anak yang dikhitan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, seandainya si anak telah menghatamkan mengajinya, maka seklian diakan khataman Al-Qur’an. Dan pada acara adat perkawinan sebelum akad nikah, si pengantin membaca ayat-ayat Al-Qur’an (khatam) dan pelaksanaan akad nikah secara Islam.
Namun, pada pelaksanaan upacara-upacara lainnya pada upacara adat perlawinanmasih juga terdapat beberapa upacara yang mengandung kepercayaan-kepercayaan kuno, dengan tindakan-tindakan simbolis, misalnya yaitu pada upacara dimana pengantin Pria dicuci kakinya dengan air kembang tujuh rupa yang melambangkan penolak bala agar segala noat-niat jahat yang mungkin dilakukan orang yang ingin mengacaukan acara perkawinan.
Contoh lainnya pada saat sebelum penngantin wanita harus melakukan pembersihan diri. Di beberapa daerah di Sumatera Selatan si gadis dimandikan di sungai dengan upacara kecil yang dimaksudkan segala keburukan, kesialan dan lainnya hilang/hanyut terbawa aliran air sungai. Pada masyarakat Palembang si gadis di “tangas” yaitu si gadis didudukan diatas kursi atau bale-bale dimana dibawah kursi atau bale tersebut diletakkan abu panas/bara api yang diberi pewangian lalu si gadis diselubungi dengan tikar.
Maksud dari tindakan ini adalah agar segala keburukan/kesialan yang ada pada gadis (calon pengantin) terhapus bersama keringat yang keluar dari tubuhnya dan pada saat upacara perkawinan si gadis akan tampak “Mangga Paes” artinya tampak cantik berseri dan anggun. Masih terdapat bermacam-macam lagi upacara yang merupakan symbol-symbol yang mempunyai pengaruh kepercayaan di luar Islam.
b.      System Kemasyarakatan
1)      Bentuk Desa
Desa yang merupakan tempat tinggal sebgian besar masyarakat. Di Sumatera Selatan umumnya dikenal dengan system pemerintah “kepasirahan” atau Pemerintah Marga”. Di dalam aturan marga antara lain ditetapkan bahwa dalam satu marga dipilih seorang “pasirah” yang bertanggung jawab atas segala hal marganya. Pada marga lain pasirah tersebut disebut “depati”. Jika pasirah atau depati berhalangan, maka tugas-tugasnya akan dilaksanakan oleh pembarap atau penggawa marga.
Disamping itu ditempat kedudukan pasirah diadakan Kermit Marga yang terdiri dari enam sampai sepuluh orang. Tugas dari Kermit-kermit tersebut adalah menunggu gardu, mengantar surat, memandui perahu-perahu pemerintahan, menjaga balairung pengkalan paseban dan lainnya. Dalam aturannya ditetapkan seorang penghulu yang mengetahui seluk beluk hukum Islam. Penghulu ini menguasai kaum dalam marganya dan dibantu seorang atau dua orang Khatib atau Mudin. Anggota kaum lainnya ialah Gilal dan Marbut.
2)      Sistem Kekerabatan
Masyarakat Sumatera Selatan yang sebagian besar beragama Islam. Kebudayaan daerah ini sudah mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan masyarakat. Banyak hal yang dapat mempengaruhi perkembangan tersebut. Faktor tersebut dapat merupakan faktor intern yang dapat tingkah laku serta nilai-nilai yang ada didalam masyarakat. Pengaruh tersebut diatas terlihat dari susunan lapisan masyarakat.
Ada yang dilahirkan dalam perkawinan adalah anak ibu dan bapak, dan menarik garis keturunan ibu dan bapak. Dipihak lain tetap bertahan dengan prinsip “Patrilineal”. Dalam masyarakat yang susunan keluarganya secara patrilineal dikenal juga perkawinan “Ambil Anak”, kedudukan anak akan berubah dan merupakan kebalikan hukum kebapaan. Anak adalah milik ibu, dalam arti si anak menarik garis keturunan ibu melalui garis penghubung dari ibunya, neneknya, demikian dan seterusnya keatas.
3)      Sistem Perkawinan
Pada perkawiana Sumatera Selatan terdapat beraneka ragam tata perkawinan yaitu :
a)      Perkawinan Ambil Anak
Pada cara perkawinan ini biasa dilakukan apabila keluarga yang mampunyai kedudukan terhormat tidak mempunyai anak laki-laki. Maka anak pemrempuan yang tertua dikawinkan dengan cara kawin ambil anak. Pihak laki-laki tidak diwajibkan membayar bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali, semua biaya perkawinan ditanggung oleh pihak perempuan.
Tetapi sang suami harus tinggal menetap di rumah keluarga isteri.  Pada cara perkawinan ini dapat juga terjadi apabila keluarga tersebut mampunyai anak laki-laki, si suami harus turut membantu keluarga isterimnya memenuhi “uang jujur” waktu iparnya kawin.

b)      Kawin Jujur
Pada adat perkawiana jujur ini pihak laki-laki seolah-oleh membeli isteri. Segala milik suami adalah hak suaminya sendiri, bahkan si isteri pun di anggap hak miliknya pula, berikut anak yang lahir dari perkawinan tersrbut. Anak-anak permepuan seolah-olah harta bendanya pula, yang kelak akan menerima uang jujur. Isteri dapat dikatakan tidak mempunyai hak waris, jika suaminya meninggal dunia, maka janda itu ditanggung oleh keluarga terdekat suami, bahkan sering pula jandi tersebut di peristi oleh saoudara almarhumah suaminya yang disebut nyelamang atau anggan.
c)      Kawin Rasan Suka Sama Suka
Pada perkawinan cara ini lebih menitik beratkan pada kompromi antar dua keluarga, segala sesuatunya diputuskan dengan hasil kesepakatan kedua belah pihak keluarga.
d)     Semenendo Raja-raja
Perkawinan cara ini hanya berlangsung bagi keluarga dari keturunan raja-raja.
e)       Semendo Cacang Jurai
Pada adat perkawinan cara ini anak tertua tidak boleh meninggalkan rumah. Apabila meraka kawin, mereka harus mengurus rumah leluhurnya dan harus bertanggung jawab penuh pada seluruh keluarganya.
f)       Perkawinan Menetap (Tunggu Tubang)
Pada adat perkawinan cara ini si suami harus tinggal di rumah isteri dan selamnya tidak boleh kembali ke orang tuanya. Ia mempunyai kewajiban/tanggung jawab memelihara, mengelolah/mengurus hart keluarga isteri.
4)      Bahasa
Di Sumatera Selatan terdapat 12 jenis bahasa dearah yaitu ; bahasa Pelembang, bahasa Komering, bahasa Ogan, bahasa Pasemah, bahasa Kayu Agung, bahasa Rawas, bahasa Muara Enim, bahasa Semendo, bahasa Rejang, bahasa Serawai, bahasa Sekak Laut (Lebak), bahasa Negrito (Mapur). Bahkan pada tiap-tiap dusun mempunyai bahasa (Dialek) masing-masing.
Sebagai bahasa pokok/bahasa penghubung adalah bahasa Palembang. Bahasa Palembang sama seperti bahasa Jawa dibagi menjdi dua yaitu Bahas Palembang halus dan kasar.
5)      Kesenian
Masyarakat Sumatera Selatan mempunyai aneka seni indah dan agung yaitu :
a)      Seni Drama
Di Sumatera Selatan dinamankan “Dul Muluk” mengkin mirip dengan Ketoprak/Wayang Wong di jawa. Cerita yang di tampilkan pada Dul Muluk ini adalah cerita tentang raja-raja atau para pejabat-pejabat kerajaan, bahasa yang dipergunkan ialah bahasa pelembang.
b)      Seni Tari
1)      Tari Gending Sriwijaya : merupakan tari penyambutan yang di tarikan untuk menyambut tamu agung (Kepala Negara)
2)      Tari Tepak/Tari Tanggai : yaitu tari penyambutan yang ditarikan untuk menyambut tamu upacara-upacara adat, peresmian-peresmian proyek dan lain-lain. Para penari mamakai kuku-kuku panjang yang terbuat dari logam berwarna kuning emas yang disebut Tanggai yang dipasangkan pada jari-jari mereka yang menambah indahnya tarian tersebut. Pada tari Gending Sriwijaya biasanya penari berjumlah 9 orang di tambah dengan 2 orang memengang tepak sirih (Cerana dari kayu) yang berisi sekapur sirih, yang mana sekapur sirih ini di persembahkan kepada tamu sebagai ungkapan selamat dating dan tanda persahabatan.
3)      Tari Rajyat / Tari Pergaulan
Terdapat beraneka ragam tarian rakyat dan tari-tarian pergaulan yang geraknya menceritakan tentang pemujaan, tata kehidupan masyarakat maupun tentang alam dan lainnya. Contoh : Tari Burung Putih, Tari Melimbang, Tari Tenun, Tari Dana, Tari Senjang, dan lain-lain.
4.      Monografi Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatera Selatan sejak berabad yang lalu dikenal juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya, pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang juga terkenal dengan kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Nusantara. Gaung dan pengaruhnya bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika.
Sejak abad ke-13 sampai abad ke-14, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah menjadi daerah tak bertuan dan bersarangnya bajak laut dari Mancanegara terutama dari negeri Cina Pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang yang berkuasa sampai datangnya Kolonialisme Barat, lalu disusul oleh Jepang. Ketika masih berjaya, kerajaan Sriwijaya juga menjadikan Palembang sebagai Kota Kerajaan.
Secara administratif Provinsi Sumatera Selatan terdiri dari 10 (sepuluh) Pemerintah Kabupaten dan 4 (empat) Pemerintah Kota, beserta perangkat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pemerintah Kabupaten dan Kota membawahi Pemerintah Kecamatan dan Desa / Kelurahan. Pemerintahan Kabupaten / Kota tersebut sebagai berikut :
a)    Kab. Ogan Komering Ulu ( Ibukota Baturaja)
b)   Kab. OKU Timur ( Ibukota Martapura)
c)    Kab. OKU Selatan( Ibukota Muara Dua)
d)   Kab. Ogan Komering Ilir ( Ibukota Kayu Agung)
e)    Kab. Muara Enim ( Ibukota Muara Enim)
f)    Kab. Lahat ( Ibukota Lahat)
g)   Kab. Musi Rawas ( Ibukota Lubuk Linggau)
h)   Kab. Musi Banyuasin ( Ibukota Sekayu)
i)     Kab. Banyuasin ( Ibukota Pangkalan Balai)
j)     Kota Ogan Ilir ( Ibukota Indralaya)
k)   Kota Palembang ( Ibukota Palembang)
l)     Kota Pagar Alam ( Ibukota Pagar Alam)
m) Kota Lubuk Linggau ( Ibukota Lubuk Linggau)
n)   Kota Prabumulih ( Ibukota Prabumulih)
5.      Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan
Bertani adalah mata pemcaharian yang umum pada masyarakat Sumatera Selatan di pedesaan, namun ada juga yang berdagang, mencari ikan, berburu, berternak, industy rumah tangga. Dalam pertanian, petani penggarap tanah pertaniannya disawah menanam padi, di kebun  atau diladang mereka menanam palawija antara lain jangung, kacang, ketela, dan lain-lain.
Mereka berternak itik, ayam, kambing, dan juga berternak sapi. Sedangkan industry rumah tangga sperti menenun kain songket, kin brosong, membuat anyaman-anyaman, tikar, rotan dan kerajinan-kerajinan lainnya. Dalam perdagangan biasanya mereka membeli barang-barag dri pelmbang atau daerah-daerah lainnya, yang kemudia di jual kepada penduduk di desanya.
Bagi masyarakat yang tinggal dirumah-rumah rakit atau rumah-rumah terapung yang terdapat di pinggiran sungai Musi, biasanya rumah mereka di pergunakan juga sebagai toko atau kedai yang melayani masyarakat penghuni-penghuni rumah rakit itu sendiri, mereka juga melayani orang-orang yang mempergunakan sungau Musi sebagai jalur lalu lintas.

B.     Minyak dan Gas Bumi
Para ilmuan berpendapat bahwa minyak dan gas bumi terjadi dari bahan-bahan organic merupakan teori yang paling banyak diyakini.Teori ini mengatakan bahwa beribu-ribu bahkan berjuta-juta tahun lalu, bahan-bahan organic yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, binatang dan jasad renik (mikroorganisme) terangkut oleh angin, air atau sungai dan terendapkan dilaut, rawa atau danau. Tumpukan mikroorganisme ini makin lama makin banyak bercampur dengan batuan sedimen yang ikut terangkut bersamanya.
 Yang kemudian mengakibatnya tumpukan ini makin lama makin tebal dan terisolir dari pengaruh udara luar. Akibat tekanan yang semakin lama semakin besar dan suhu yang tinggi, serta dalam suatu kurun waktu yang lama, maka mikroorganisme tadi berubah bentuk menjadi minyak atau gas bumi.Migas bermigrasi atau bergerak keatas dan terjebak, kemudian terakumulasi di batuan reservoir.Dengan demikian Migas bisa ditemukan di darat maupun di laut.
Tahapan pencarian  sumber minyak dan gas bumi di suatu daerah yaitu dengan upaya cara jebakan atau perangkap didalam kerak bumi. Untuk dapat mengetahui secara pasti keberadaan akumulasi minyak atau gas bumi didalam kerak bumi, diperlukan beberapa kegiatan, antara lain:
1)   Pemetaan
Topografi, Foto Udara, Side Looking Airbone Radar (SLAR), Foto Satelit.
2)   Geologi Lapangan
Untuk menentukan penyebaran batuan, melakukan pengukuran kemiringan pada lapisan batuan, menentukan umur, jenis, dan komposisi batuan serta sruktur geologi.
3)   Geofisika
Untuk mendapatkan gambaran struktur geologi bahwa permukaan di cekungan sedimen dan mencari jebakan migas dengan cara : Metoda Magnetik, Metoda Gravitasi dan Metoda Seismik.
4)   Pemboran Eksplorasi
Suatu kegiatan pemboran untuk mengetahui keberadaan migas yang terjebak dan terakumulasi di dalam batuan reservoir.
Suatu kegiatan pemboran pengembangan apabila pada saat pemboran eksplorasi menemukan migas, kemudian dilakukan pemboran deliniasi dan pemboran pengembangan.Tujuan pemboran ini, untuk mengetahui penyebaran dan jumlah migas yang terakumulasi dalam batuan reservoar di suatu daerah (lapangan), juga sifat dan karakteristik batuan reservoar itu sendiri, agar dapat ditentukan jumlah produksi migas per hari.

1.      Sejarah Penemuan Minyak Bumi di Indonesia
Sejarah perminyakan di Indonesia baru berawal pada tahun 1885. Awal penemuan dan pemanfaatan minyak bumi  dirintis oleh industri perminyakan di Indonesia yaitu oleh seorang Aeilko Jans Ziijlker yang menemukan dan memproduksi minyak bumi secara komersial pertama kali pada tanggal 15 Juni 1885.
 Pertama kali Aeilko Jans Ziijlker mangambil minyak bumi dari sebuah sumur minyak bernama Telaga Tunggal Satu. Yang jaraknya 10 km dari Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Penemuan minyak bumi di Indonesia ini hanya berbeda selama 26 tahun  setelah Kolonel Drake menemukan minyak bumi di Pennsylvania, Amerika Serikat pada tahun 1859.
Dalam pencarian minyak di dearah Telaga Said pada akhir abad ke 19, Aeilko Jans Ziijlker menggunakan alat bor Aalborg yang sudah dimodifikasi. Sehingga dapat digunakan secara manual. Hal ini di latar belakangi oleh kejadian pada tahun 1509 yakni pelaut Aceh berhasil menenggelamkan dua kapal Portugis dengan melemparkan bola-bola api yang sebeumnya dicelupkan dalam minyak bumi dan kilang minyak Cepu pada awal abad ke 20.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Di latar belakang kediaman Soekarno di Jl. Pengangsaan Timur no 56 Jakarta, terdapat kilang-kilang minyak yang memasok bahan bakar untuk keperluan perjuangan. Undang-undang pengesahan minyak dan gas bumi. Pada tahun 1951.
Pengajuan pengesahan itu dipelopori oleh Teuku Haji Moehhammad Hassan mengajukan usul mosi untuk mengganti Indische mijnwet (IMW) 1899 dengan Undang-Undang yang berlandaskan UUD 1945. Pada tahun 1964 seluruh kegiatan dan saran pemasaran bahan bakar minyak atau BBM dalam negeri dialihkan dari perusahaan asing (Shell dan STANVAC) kepada PN PERTAMIN dan PN PERMINA.
 Yang kemudian PN PAERTAMIN dan PN PERMINA ditunjuk sebagai pengelola tunggal angkutan BBM dan minyak bumi di laut. Pada tanggal 23 Oktober 1970 Presiden dan Dr. Ibnu Sutowo meresmikan ladang Cinta. Ladang Cinta ini merupakan lapangan minyak bumi lepas pantai pertama di Indonesia. peristiwa ini merupakan keberhasilan Perjanjian Bagi Hasil yang pertama kali dalam pengusaha lapangan minyak dan gas bumi di Indonesia.

2.      Proses Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
a.      Minyak Bumi
Komponen utama minyak dan gas bumi adalah unsure karbon (C) dan unsur Hidrogen (H) sehingga dikenal sebagai senyawa Hidrokarbon. Selain Karbon dan Hidrogen, minyak bumi biasanya juga mengandung sedikit unsure belerang (S), Nitrogen (N), Oksigen (O) dan logam seperti besi (F), vanadium (V) dan Nikel (Ni).

1)      Proses Pengolahan Minyak
Proses pengolahan minyak bumi terdiri dari:
a)      Pengolahan tahap pertama atau utama (primary processing)
Pengolahan tahap pertama berupa proses distilasi yang pada hakekatnya adalah proses pemisahan minyak bumi menjadi fraksi-fraksi minyak bumi berdasarkan titik didih fraksi-fraksi tersebut.
b)      Pengolahan tahap kedua atau lanjutan (secondary processing)
Pengolahan tahap kedua atau lanjut merupakan proses-proses lanjutan untuk mengolah produk atau hasil yang diperoleh melalui pengolahan tahap pertama, sehingga menghasilkan produk-produk akhir dengan jenis, mutu dan spesifikasi yang sesuai permintaan pasar.

2)      Hasil Pengolahan Minyak Bumi
a)      Kelompok BBM (Bahan Bakar Minyak):
Avgas, Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Avtur, Kerosin, Ado (Automotif Diesel Oil), IDO (Industrial Diesel Oil), IFO (Industrial Fuel Oil).
b)      Kelompok Non-BBM:
Gas (LPG), Pelumas, Lilin< Cat, Aspal.
c)      Kelompok Petrokimia:
Paraksilena, Metanol, dan PTA (Purified Terephthalic Acid).

b.     Gas Bumi
Gas Bumi adalah senyawa hidrokarbon ringan berupa gas yanf terakumulasi dalam batuan reservoar. Di alam terdapat 3 jenis gas bumi:
1)      Associated gas, yaitu gas yang didalam reservoar terlarut dalam minyak bumi sehingga berbentuk cair, gas ini dihasilkan sebagai gas ikutan pada produksi minyak bumi. Gas ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong minyak keatas dari dalam bumi.
2)      Non Associated gas, yaitu gas yang didalam reservoir sudah berbentuk gas. Gas ini merupakan hasil dari dari sumur gas bumi dan biasanya baru diproduksikan bila pemanfaatannya sudah jelas
3)      Kondensat, yaitu gas yang didalam reservoir berbentuk gas, namun setelah sampai dipermukaan karena terpengaruh perbedaan tekanan dan suhu, berubah menjadi cair.

a)      LPG ( Liquefied Petroleum Gas)
LPG merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran hidrokarbon dengan propane (C3H8) dan buatan (C4H10) sekitar 99% yang dicairkan.Elpiji (LPG) adalah merk dagang Liquefied Petroleum Gas yang dipasarkan di Indonesia. LPG sebagai bahan bakar lebih menguntungkan karena:
1)      Pembakarannya sempurna, jadi tidak berasap
2)      Tidak berjelaga, sehingga dapur dan alat-alatnya tetap bersih
3)      Tidak menimbulkan polusi, sehingga merupakan energy bersih dan ramah lingkungan.

b)     LNG (Liquefied Natural Gas)
LNG adalah gas bumi yang dicairkan.Natural gas (gas alam atau gas bumi) adalah campuran hidrokarbon (HC) ringan (C1C1) yang berasal dari dalam bumi berupa gas dengan komposisi utama kurang lebih 85% metana (CH4), kurang lebih 10% etana (C2H6). Gas bumi merupakan gas yang tak berwarna, tak berbau dan mudah terbakar.
Keuntungan LNG
a)      LNG dapat disimpan dalam bentuk cair dengan volume yang kecil dan mudah diuapkan kembali
b)      LNG merupakan bahan bakar bersih sehingga ramah lingkungan
c)      LNG mempunyai nilai kalor tinggi, sehingga lebih ekonomis
d)     LNG seperti halnya gas bumi, dapat dijadikan bahan baku untuk industri petrokimia.

3.      Peranan Minyak dan Gas Bumi dalam Pembangunan
Migas merupakan sumber daya alam strategis tidak terbarukan yang dikuasai oleh negara serta merupakan komoditas vital yang menguasai hajat hidup orang banyak, migas mempunyai peranan penting dalam perekonomian nasional, sehingga pengelolaannya harus dapat secara maksimal memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Minyak dan gas bumi juga digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dan produk-produk Petrokimia seperti Poli Propilena, Poli Etilena, Poli Stirene, Butadiena, dan lain-lain.




















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatera Selatan luasnya 109.254 Kilometer persegi yang beribukota di Palembang yang berbatasan dengan sebelah Utara Laut Cina Selatan, disebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Bengkulu, disebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, disebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa. Beberapa suku yang ada di Sumatera Seltan antara lain suku Komering, Palembang, Pasemah, Semenda, Ranau Kisan, Ogan dan Lematang. Beraneka ragam kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat provinsi Sumatera Selatan. Dengan adanya jembatan Ampera membuat citra Sumatera semakin khas.
2.      Minyak dan Gas Bumi
Sejarah perminyakan di Indonesia baru berawal pada tahun 1885. Namun dengan demikian minyak dan gas bumi sudah banyak memberikan sumbangan yang besar untuk pembangunan negeri ini. Adalah tugas kita untuk memanfaatkan secara arif minyak dan gas bumi ini untuk generasi kini dan genarasi yang akan mendatang. Karena minyak dan gas bumi adalah sumber enegri yang tidak dapat diperbaharui, untuk menjadi sebuah minyak dan gas bumi harus melewati beberapa tahapan yang tidak singkat dan memerlukan banyak tenaga.

B.     Saran
Saran kami sebagai penulis adalah hendaknya dalam mempelajari Geografi hendaknya kita tidak hanya melihat dari letak geografis suatu daerah saja, tetapi kita harus melihat pula social dan buadaya yang ada di daerah dan juga perekonomian suatu dearah tersebut dari berbagai macam suku dan budaya yang ada di masing-masing daerah di Indonesia. Dalam Minyak dan Gas Bumi harusnya kita secara arif dapat menggunakan sumber daya alam yang tak terbarukan tersebut. Kita harus mencari-cari alternatif untuk menggantikan minyak dan gas bumi, agar apabila suatu saat nanti minyak dan gas bumi habis, kita tidak sengsara.
                                                    DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. 2007. Sumatera Selatan dalam Angka Tahun 2007 (halaman 222-223).
Biro humas museum Graha Widya Patra, “Lembar Informasi: Museum Minyak Dan Gas Bumi Taman Mini Indonesia Indah”. Jakarta: Biro humas museum Graha Widya Patra, 2006.
Biro Humas Provinsi Sumatera Selatan. “Lembar Informasi: Anjungan Daerah Sumatera Selatan. Taman Mini Indonesia Indah”. Jakarta: Biro Humas Anjungan Sumatera Selatan. Tanpa Tahun.
http://amperawisata digital.info/peta.php (28 Mei 2012)
RAN Kesra Pembangunan Manusia Indonesia 2010-2014
Renstra BAPPEDA Provinsi Sumatera Selatan 2008-2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar