BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
1.
Provinsi
Sumatera Selatan
Privinsi
Sumatera Selatan mempunyai wilayah
seluas 109.254 km2, beribukota di Palembang. Palembang didirikan
sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 25 Juni 683. Nama
Palembang, konon berasal dari kata Limbung, yang artinya membersihkan biji
emas. Daerah ini dahulua dikenal sebagai Swarnadwipa atau Swarnabhumi yang
berarti Pulau Emas atau Negeri Emas.
Dahulu
Provinsi Sumatera Selatan merupakan wilayah bekas jajahan kerajaan Sriwijaya.
Bekas pusat kerajaan Sriwijaya ini dipisahkan oleh aliran Sungai Musi. Oleh
karena itu maka dibuatlah sebuah jembatan untuk menghubungkan kedua sisi kota.
Jembatan Ampera ini dibangun oleh Pemerintah Indonesia dengan biaya rampasan
perang pada tahun 1962. Dengan bentuk jembatan yang sangat khas, maka jembatan
ini sering dijadikan “Citra Visual” kota.
2.
Museum
Minyak dan Gas Bumi Graha widya Patra
Minyak
dan Gas bumi merupakan salah satu sumber daya alam yang tak dapat diperbarukan.
Untuk mendapatkan minyak dan Gas Bumi memerlukan tahapan-tahapan yang pajang.
Oleh karena itu Minyak dan Gas Bumi sering mengalami kelangkaan.
Pendistribusian Minyak dan Gas Bumi merupakan hal yang sangat penting agar
seluruh pelosok wilayah Indonesia dapat menikmati enegri Minyak dan Gas Bumi.
Minyak dan Gas atau disingkat Migas menjadi
komoditas vital bagi suatu negara. Migas merupakan sumber daya alam yang
dikuasai oleh Negara. Peranan Migas sangat penting dalam perekonomian nasional
Bangsa Indonesia. oleh sebab itu pengelolaan Migas harus dicapai secara
maksimal untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Untuk
saat ini belum ada enegri yang dapat menandingi hebatnya peranan Minyak dan Gas
Bumi.
B. Rumusan
Masalah
1.
Provinsi
Sumatera Selatan
1)
Bagaimanakah
kondis fisik Provinsi Sumatera Selatan ?
2)
Bagaimanakah
sosial dan budaya masyarakat Provinsi Sumatera Selatan ?
3)
Berapakah
jumlah penduduk masyarkat Provinsi Sumatera Selatan ?
4)
Bagaimanakah
monografi Provinsi Sumatera Selatan ?
5)
Bagaimanakah
perekomomian masyarakat Provinsi Sumatera Selatan ?
2.
Museum
Minyak dan Gas Bumi
1)
Bagaimana
sejarah perkembangan Minyak dan gas Bumi Indonesia ?
2)
Bagaimana
proses pengolahan Minyak dan Gas ?
3)
Bagaimana
peranan Minyak dan Gas dalam pembangunan ?
C. Tujuan
Penulisan
1.
Provinsi
Sumatera Selatan
1)
Untuk
mengetahui kondisi fisik daerah Provinsi Sumatera Selatan
2)
Untuk
mengetahui tetang social dan budaya masyarakat Provinsi Sumatera Selatan
3)
Untuk
mangatahui jumlah penduduk masyarakat Provinsi Sumatera Selatan.
4)
Untuk
mengetahui kondisi monografi provinsi Sumatera Selatan
5)
Dan
untuk mengetahui tatang system perekonomian masyarakat Provinsi Sumatera
selatan
2.
Minyak
dan Gas Bumi
1)
Untuk
mengetahui tentang sejarah perkembangan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia
2)
Untuk
mengetahui tentang proses pengolahan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia
3)
Untuk
mengetahui tantang peranan Minyak dan Gas Bumi dalam pembangunan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sumatera Selatan
1. Kondisi
Fisik Provinsi Sumatera Selatan
Letak geografis Sumatera Selatan luasnya 109.254
Kilometer persegi yang beribukota di Palembang yang berbatasan dengan sebelah
Utara Laut Cina Selatan, disebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Jambi dan
Bengkulu, disebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, disebelah Timur
berbatasan dengan Laut Jawa.
Komposisi tanah pada daerah Provinsi Sumatera Selatan terdiri
dari beberapa elemen antara lain organosol, litosol, alluvial, grey hidromert,
humus clay, regosol, andosol, redzina, latesol, lateric, dan podzilic. Terdapat
banyak gunung yaitu gunung Dempo (3.159 m), gunungBepagut (2.492 M), gunung
Seblat (2.383 M).
Cuaca pada daerah provinsi Sumatera selatan beriklim
tropis dengan temperatur berkisar antara 230C – 330C. kelembaban
85%. Curah hujan berkisar antara 2.000 milimeter sampai 3.000 milimeter
pertahun, kecepatan angin sekitar 3,23 Km per jam.
Jenis flora dan fauna pada dearah Provinsi Sumatera
Selatan yaitu untuk fauna Sumatera Selatan Seperti kayu unglen, petanang,
tembesu, rotan, dan anggrek. Fauna dari provinsi Sumatera Selatan yaitu gajah,
badak, tapir, rusa, harimau, monyet, buaya, kambing hutan dan simpai.
2.
Kependudukan Provinsi Sumatera Selatan
Luas Sumatera Selatan sekitar 109.245 kilometer persegi
dihuni oleh sekitar 6.000.000 jiwa, 750.000 jiwa tinggal di Kota Palembang.
Beberapa suku yang ada di Sumatera Seltan antara lain suku Komering, Palembang,
Pasemah, Semenda, Ranau Kisan, Ogan dan Lematang. Jumlah populasi di Sumatera
Selatan yaitu 5.453.000 pada tahun 1985. Dengan kepadatan yaitu 53 orang per
kilometer persegi.
Tingkat pertumbuhan penduduk masyarakat Provinsi Sumatera Selatan yaitu
sebesar 3,14% pada tahun 1972 sampai tahun 1982. Pemerintahan Sumatera Selatan terbagai menjadi sebelas kabupaten, serta
empat kotamadya, 92 kecamatan dan 2.492 desa. Agama 96,25% Islam, 1,13%
Protestan, 0,89 % Khatolik, 0,28% Hindu, dan 1,73% Budha.
Dalam bidang pendidikan Provinsi Sumatera Selatan
memiliki Sekolah Dasar berjumlah 4.352 sekolah dengan jumlah guru 31.304 guru,
dengan murid berjumlah 1.006.824 murid, sedangkan SLTP berjumlah 616 sekolah
dengan guru sebanyak 10.091 orang, dengan jumlah murid 1666.499 pelajar, SMU
121 sekolah dengan jumlah guru 4.051 pengejar, dan murid 69.781 pelajar, dan
perguruan tinggi berjumlah 14 perguruan tinggi dengan jumlah dosen 1.459 dan
mahasiswa 34.596 mahasiswa.
3.
Sosial dan Budaya Provinsi Sumatera Selatan
a.
System Religi Sumatera Selatan
Agama Islam adalah agama yang dianut oleh masyarakat
Sumatera Selatan yang mendukung pola kebudayaan Sumatera Selatan. Terdapat pula
agama-agama lainnya, seperti Kristen, Hindu, Budha dan lain-lainnya. Namun,
toleransi beragama yang tinggi diantara masyarakat mendukung ketenraman dan
kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Ajaran-ajaran agama Islam beritervensi kuat dalam pola
kehidupan masyarakat, hal-hal itu dapat terlihat jelas pada adat istiadat yang
berlaku di Sumatera Selatan. Seperti upacara cukuran rambut, khitanan dan adat
perkawinan. Pada acara cukuran rambut bayi, selalu diadakan “marhaban” yaitu
pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan Shalawat nabi, yang dilakukan bersama oleh
para tamu dan keluarga.
Pada saat upacara khitanan di Sumatera Selatan biasanya
si anak yang dikhitan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, seandainya si anak telah
menghatamkan mengajinya, maka seklian diakan khataman Al-Qur’an. Dan pada acara
adat perkawinan sebelum akad nikah, si pengantin membaca ayat-ayat Al-Qur’an
(khatam) dan pelaksanaan akad nikah secara Islam.
Namun, pada pelaksanaan upacara-upacara lainnya pada
upacara adat perlawinanmasih juga terdapat beberapa upacara yang mengandung
kepercayaan-kepercayaan kuno, dengan tindakan-tindakan simbolis, misalnya yaitu
pada upacara dimana pengantin Pria dicuci kakinya dengan air kembang tujuh rupa
yang melambangkan penolak bala agar segala noat-niat jahat yang mungkin
dilakukan orang yang ingin mengacaukan acara perkawinan.
Contoh lainnya pada saat sebelum penngantin wanita harus
melakukan pembersihan diri. Di beberapa daerah di Sumatera Selatan si gadis
dimandikan di sungai dengan upacara kecil yang dimaksudkan segala keburukan,
kesialan dan lainnya hilang/hanyut terbawa aliran air sungai. Pada masyarakat
Palembang si gadis di “tangas” yaitu si gadis didudukan diatas kursi atau
bale-bale dimana dibawah kursi atau bale tersebut diletakkan abu panas/bara api
yang diberi pewangian lalu si gadis diselubungi dengan tikar.
Maksud dari tindakan ini adalah agar segala
keburukan/kesialan yang ada pada gadis (calon pengantin) terhapus bersama
keringat yang keluar dari tubuhnya dan pada saat upacara perkawinan si gadis
akan tampak “Mangga Paes” artinya tampak cantik berseri dan anggun. Masih
terdapat bermacam-macam lagi upacara yang merupakan symbol-symbol yang
mempunyai pengaruh kepercayaan di luar Islam.
b. System
Kemasyarakatan
1) Bentuk
Desa
Desa
yang merupakan tempat tinggal sebgian besar masyarakat. Di Sumatera Selatan
umumnya dikenal dengan system pemerintah “kepasirahan” atau Pemerintah Marga”.
Di dalam aturan marga antara lain ditetapkan bahwa dalam satu marga dipilih
seorang “pasirah” yang bertanggung jawab atas segala hal marganya. Pada marga
lain pasirah tersebut disebut “depati”. Jika pasirah atau depati berhalangan,
maka tugas-tugasnya akan dilaksanakan oleh pembarap atau penggawa marga.
Disamping
itu ditempat kedudukan pasirah diadakan Kermit Marga yang terdiri dari enam
sampai sepuluh orang. Tugas dari Kermit-kermit tersebut adalah menunggu gardu,
mengantar surat, memandui perahu-perahu pemerintahan, menjaga balairung
pengkalan paseban dan lainnya. Dalam aturannya ditetapkan seorang penghulu yang
mengetahui seluk beluk hukum Islam. Penghulu ini menguasai kaum dalam marganya
dan dibantu seorang atau dua orang Khatib atau Mudin. Anggota kaum lainnya
ialah Gilal dan Marbut.
2) Sistem
Kekerabatan
Masyarakat Sumatera
Selatan yang sebagian besar beragama Islam. Kebudayaan daerah ini sudah
mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan masyarakat. Banyak hal yang
dapat mempengaruhi perkembangan tersebut. Faktor tersebut dapat merupakan
faktor intern yang dapat tingkah laku serta nilai-nilai yang ada didalam
masyarakat. Pengaruh tersebut diatas terlihat dari susunan lapisan masyarakat.
Ada yang dilahirkan
dalam perkawinan adalah anak ibu dan bapak, dan menarik garis keturunan ibu dan
bapak. Dipihak lain tetap bertahan dengan prinsip “Patrilineal”. Dalam
masyarakat yang susunan keluarganya secara patrilineal dikenal juga perkawinan
“Ambil Anak”, kedudukan anak akan berubah dan merupakan kebalikan hukum
kebapaan. Anak adalah milik ibu, dalam arti si anak menarik garis keturunan ibu
melalui garis penghubung dari ibunya, neneknya, demikian dan seterusnya keatas.
3) Sistem
Perkawinan
Pada
perkawiana Sumatera Selatan terdapat beraneka ragam tata perkawinan yaitu :
a)
Perkawinan
Ambil Anak
Pada cara
perkawinan ini biasa dilakukan apabila keluarga yang mampunyai kedudukan
terhormat tidak mempunyai anak laki-laki. Maka anak pemrempuan yang tertua
dikawinkan dengan cara kawin ambil anak. Pihak laki-laki tidak diwajibkan
membayar bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali, semua biaya
perkawinan ditanggung oleh pihak perempuan.
Tetapi sang suami
harus tinggal menetap di rumah keluarga isteri.
Pada cara perkawinan ini dapat juga terjadi apabila keluarga tersebut
mampunyai anak laki-laki, si suami harus turut membantu keluarga isterimnya
memenuhi “uang jujur” waktu iparnya kawin.
b)
Kawin
Jujur
Pada
adat perkawiana jujur ini pihak laki-laki seolah-oleh membeli isteri. Segala
milik suami adalah hak suaminya sendiri, bahkan si isteri pun di anggap hak
miliknya pula, berikut anak yang lahir dari perkawinan tersrbut. Anak-anak
permepuan seolah-olah harta bendanya pula, yang kelak akan menerima uang jujur.
Isteri dapat dikatakan tidak mempunyai hak waris, jika suaminya meninggal
dunia, maka janda itu ditanggung oleh keluarga terdekat suami, bahkan sering
pula jandi tersebut di peristi oleh saoudara almarhumah suaminya yang disebut
nyelamang atau anggan.
c)
Kawin
Rasan Suka Sama Suka
Pada
perkawinan cara ini lebih menitik beratkan pada kompromi antar dua keluarga,
segala sesuatunya diputuskan dengan hasil kesepakatan kedua belah pihak
keluarga.
d)
Semenendo
Raja-raja
Perkawinan
cara ini hanya berlangsung bagi keluarga dari keturunan raja-raja.
e)
Semendo Cacang Jurai
Pada adat perkawinan cara ini anak tertua tidak boleh meninggalkan rumah.
Apabila meraka kawin, mereka harus mengurus rumah leluhurnya dan harus
bertanggung jawab penuh pada seluruh keluarganya.
f)
Perkawinan
Menetap (Tunggu Tubang)
Pada adat perkawinan cara ini si suami harus tinggal di rumah isteri dan
selamnya tidak boleh kembali ke orang tuanya. Ia mempunyai kewajiban/tanggung
jawab memelihara, mengelolah/mengurus hart keluarga isteri.
4) Bahasa
Di Sumatera Selatan
terdapat 12 jenis bahasa dearah yaitu ; bahasa Pelembang, bahasa Komering,
bahasa Ogan, bahasa Pasemah, bahasa Kayu Agung, bahasa Rawas, bahasa Muara
Enim, bahasa Semendo, bahasa Rejang, bahasa Serawai, bahasa Sekak Laut (Lebak),
bahasa Negrito (Mapur). Bahkan pada tiap-tiap dusun mempunyai bahasa (Dialek)
masing-masing.
Sebagai bahasa
pokok/bahasa penghubung adalah bahasa Palembang. Bahasa Palembang sama seperti
bahasa Jawa dibagi menjdi dua yaitu Bahas Palembang halus dan kasar.
5) Kesenian
Masyarakat
Sumatera Selatan mempunyai aneka seni indah dan agung yaitu :
a)
Seni
Drama
Di
Sumatera Selatan dinamankan “Dul Muluk” mengkin mirip dengan Ketoprak/Wayang
Wong di jawa. Cerita yang di tampilkan pada Dul Muluk ini adalah cerita tentang
raja-raja atau para pejabat-pejabat kerajaan, bahasa yang dipergunkan ialah
bahasa pelembang.
b)
Seni
Tari
1)
Tari
Gending Sriwijaya : merupakan tari penyambutan yang di tarikan untuk menyambut
tamu agung (Kepala Negara)
2)
Tari
Tepak/Tari Tanggai : yaitu tari penyambutan yang ditarikan untuk menyambut tamu
upacara-upacara adat, peresmian-peresmian proyek dan lain-lain. Para penari
mamakai kuku-kuku panjang yang terbuat dari logam berwarna kuning emas yang
disebut Tanggai yang dipasangkan pada jari-jari mereka yang menambah indahnya
tarian tersebut. Pada tari Gending Sriwijaya biasanya penari berjumlah 9 orang
di tambah dengan 2 orang memengang tepak sirih (Cerana dari kayu) yang berisi
sekapur sirih, yang mana sekapur sirih ini di persembahkan kepada tamu sebagai
ungkapan selamat dating dan tanda persahabatan.
3)
Tari
Rajyat / Tari Pergaulan
Terdapat beraneka
ragam tarian rakyat dan tari-tarian pergaulan yang geraknya menceritakan
tentang pemujaan, tata kehidupan masyarakat maupun tentang alam dan lainnya.
Contoh : Tari Burung Putih, Tari Melimbang, Tari Tenun, Tari Dana, Tari
Senjang, dan lain-lain.
4. Monografi
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatera Selatan sejak berabad yang lalu dikenal
juga dengan sebutan Bumi Sriwijaya, pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi
wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang juga terkenal dengan
kerajaan maritim terbesar dan terkuat di Nusantara. Gaung dan pengaruhnya
bahkan sampai ke Madagaskar di Benua Afrika.
Sejak abad ke-13 sampai abad ke-14, wilayah ini berada di
bawah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya wilayah ini pernah menjadi daerah tak
bertuan dan bersarangnya bajak laut dari Mancanegara terutama dari negeri Cina
Pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang yang berkuasa sampai
datangnya Kolonialisme Barat, lalu disusul oleh Jepang. Ketika masih berjaya,
kerajaan Sriwijaya juga menjadikan Palembang sebagai Kota Kerajaan.
Secara administratif Provinsi Sumatera Selatan terdiri
dari 10 (sepuluh) Pemerintah Kabupaten dan 4 (empat) Pemerintah Kota, beserta
perangkat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pemerintah Kabupaten dan Kota
membawahi Pemerintah Kecamatan dan Desa / Kelurahan. Pemerintahan Kabupaten /
Kota tersebut sebagai berikut :
a)
Kab.
Ogan Komering Ulu ( Ibukota Baturaja)
b)
Kab.
OKU Timur ( Ibukota Martapura)
c)
Kab.
OKU Selatan( Ibukota Muara Dua)
d)
Kab.
Ogan Komering Ilir ( Ibukota Kayu Agung)
e)
Kab.
Muara Enim ( Ibukota Muara Enim)
f)
Kab.
Lahat ( Ibukota Lahat)
g)
Kab.
Musi Rawas ( Ibukota Lubuk Linggau)
h)
Kab.
Musi Banyuasin ( Ibukota Sekayu)
i)
Kab.
Banyuasin ( Ibukota Pangkalan Balai)
j)
Kota
Ogan Ilir ( Ibukota Indralaya)
k)
Kota
Palembang ( Ibukota Palembang)
l)
Kota
Pagar Alam ( Ibukota Pagar Alam)
m) Kota Lubuk Linggau ( Ibukota Lubuk Linggau)
n)
Kota
Prabumulih ( Ibukota Prabumulih)
5. Perekonomian
Provinsi Sumatera Selatan
Bertani adalah
mata pemcaharian yang umum pada masyarakat Sumatera Selatan di pedesaan, namun
ada juga yang berdagang, mencari ikan, berburu, berternak, industy rumah
tangga. Dalam pertanian, petani penggarap tanah pertaniannya disawah menanam
padi, di kebun atau diladang mereka
menanam palawija antara lain jangung, kacang, ketela, dan lain-lain.
Mereka
berternak itik, ayam, kambing, dan juga berternak sapi. Sedangkan industry
rumah tangga sperti menenun kain songket, kin brosong, membuat anyaman-anyaman,
tikar, rotan dan kerajinan-kerajinan lainnya. Dalam perdagangan biasanya mereka
membeli barang-barag dri pelmbang atau daerah-daerah lainnya, yang kemudia di
jual kepada penduduk di desanya.
Bagi
masyarakat yang tinggal dirumah-rumah rakit atau rumah-rumah terapung yang
terdapat di pinggiran sungai Musi, biasanya rumah mereka di pergunakan juga
sebagai toko atau kedai yang melayani masyarakat penghuni-penghuni rumah rakit
itu sendiri, mereka juga melayani orang-orang yang mempergunakan sungau Musi
sebagai jalur lalu lintas.
B.
Minyak dan Gas Bumi
Para ilmuan berpendapat bahwa minyak dan gas
bumi terjadi dari bahan-bahan organic merupakan teori yang paling banyak
diyakini.Teori ini mengatakan bahwa beribu-ribu bahkan berjuta-juta tahun lalu,
bahan-bahan organic yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, binatang dan jasad renik
(mikroorganisme) terangkut oleh angin, air atau sungai dan terendapkan dilaut,
rawa atau danau. Tumpukan mikroorganisme ini makin lama makin banyak bercampur
dengan batuan sedimen yang ikut terangkut bersamanya.
Yang
kemudian mengakibatnya tumpukan ini makin lama makin tebal dan terisolir dari
pengaruh udara luar. Akibat tekanan yang semakin lama semakin besar dan suhu
yang tinggi, serta dalam suatu kurun waktu yang lama, maka mikroorganisme tadi
berubah bentuk menjadi minyak atau gas bumi.Migas bermigrasi atau bergerak
keatas dan terjebak, kemudian terakumulasi di batuan reservoir.Dengan demikian
Migas bisa ditemukan di darat maupun di laut.
Tahapan pencarian sumber minyak dan gas bumi di suatu daerah
yaitu dengan upaya cara jebakan atau perangkap didalam kerak bumi. Untuk dapat
mengetahui secara pasti keberadaan akumulasi minyak atau gas bumi didalam kerak
bumi, diperlukan beberapa kegiatan, antara lain:
1)
Pemetaan
Topografi, Foto Udara, Side Looking Airbone
Radar (SLAR), Foto Satelit.
2)
Geologi Lapangan
Untuk menentukan penyebaran batuan, melakukan
pengukuran kemiringan pada lapisan batuan, menentukan umur, jenis, dan
komposisi batuan serta sruktur geologi.
3) Geofisika
Untuk mendapatkan gambaran struktur geologi bahwa
permukaan di cekungan sedimen dan mencari jebakan migas dengan cara : Metoda
Magnetik, Metoda Gravitasi dan Metoda Seismik.
4) Pemboran Eksplorasi
Suatu kegiatan pemboran untuk mengetahui keberadaan migas
yang terjebak dan terakumulasi di dalam batuan reservoir.
Suatu kegiatan pemboran pengembangan apabila pada saat pemboran eksplorasi
menemukan migas, kemudian dilakukan pemboran deliniasi dan pemboran
pengembangan.Tujuan pemboran ini, untuk mengetahui penyebaran dan jumlah migas
yang terakumulasi dalam batuan reservoar di suatu daerah (lapangan), juga sifat
dan karakteristik batuan reservoar itu sendiri, agar dapat ditentukan jumlah
produksi migas per hari.
1. Sejarah
Penemuan Minyak Bumi di Indonesia
Sejarah
perminyakan di Indonesia baru berawal pada tahun 1885. Awal penemuan dan
pemanfaatan minyak bumi dirintis oleh
industri perminyakan di Indonesia yaitu oleh seorang Aeilko Jans Ziijlker yang
menemukan dan memproduksi minyak bumi secara komersial pertama kali pada
tanggal 15 Juni 1885.
Pertama kali Aeilko Jans Ziijlker mangambil
minyak bumi dari sebuah sumur minyak bernama Telaga Tunggal Satu. Yang jaraknya
10 km dari Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Penemuan minyak bumi di Indonesia
ini hanya berbeda selama 26 tahun
setelah Kolonel Drake menemukan minyak bumi di Pennsylvania, Amerika
Serikat pada tahun 1859.
Dalam
pencarian minyak di dearah Telaga Said pada akhir abad ke 19, Aeilko Jans
Ziijlker menggunakan alat bor Aalborg yang sudah dimodifikasi. Sehingga dapat
digunakan secara manual. Hal ini di latar belakangi oleh kejadian pada tahun
1509 yakni pelaut Aceh berhasil menenggelamkan dua kapal Portugis dengan
melemparkan bola-bola api yang sebeumnya dicelupkan dalam minyak bumi dan
kilang minyak Cepu pada awal abad ke 20.
Pada tanggal
17 Agustus 1945 Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia. Di latar belakang kediaman Soekarno di Jl. Pengangsaan Timur no 56
Jakarta, terdapat kilang-kilang minyak yang memasok bahan bakar untuk keperluan
perjuangan. Undang-undang pengesahan minyak dan gas bumi. Pada tahun 1951.
Pengajuan
pengesahan itu dipelopori oleh Teuku Haji Moehhammad Hassan mengajukan usul
mosi untuk mengganti Indische mijnwet (IMW) 1899 dengan Undang-Undang yang berlandaskan
UUD 1945. Pada tahun 1964 seluruh kegiatan dan saran pemasaran bahan bakar minyak
atau BBM dalam negeri dialihkan dari perusahaan asing (Shell dan STANVAC)
kepada PN PERTAMIN dan PN PERMINA.
Yang kemudian PN PAERTAMIN dan PN PERMINA ditunjuk
sebagai pengelola tunggal angkutan BBM dan minyak bumi di laut. Pada tanggal 23
Oktober 1970 Presiden dan Dr. Ibnu Sutowo meresmikan ladang Cinta. Ladang Cinta
ini merupakan lapangan minyak bumi lepas pantai pertama di Indonesia. peristiwa
ini merupakan keberhasilan Perjanjian Bagi Hasil yang pertama kali dalam
pengusaha lapangan minyak dan gas bumi di Indonesia.
2. Proses
Pengolahan Minyak dan Gas Bumi
a. Minyak
Bumi
Komponen utama minyak dan gas bumi adalah unsure karbon
(C) dan unsur Hidrogen (H) sehingga dikenal sebagai senyawa Hidrokarbon. Selain
Karbon dan Hidrogen, minyak bumi biasanya juga mengandung sedikit unsure
belerang (S), Nitrogen (N), Oksigen (O) dan logam seperti besi (F), vanadium
(V) dan Nikel (Ni).
1) Proses
Pengolahan Minyak
Proses pengolahan minyak bumi terdiri dari:
a)
Pengolahan tahap pertama atau utama (primary processing)
Pengolahan tahap pertama berupa proses distilasi yang pada hakekatnya
adalah proses pemisahan minyak bumi menjadi fraksi-fraksi minyak bumi
berdasarkan titik didih fraksi-fraksi tersebut.
b) Pengolahan tahap kedua atau lanjutan
(secondary processing)
Pengolahan tahap kedua atau lanjut merupakan proses-proses lanjutan untuk
mengolah produk atau hasil yang diperoleh melalui pengolahan tahap pertama,
sehingga menghasilkan produk-produk akhir dengan jenis, mutu dan spesifikasi
yang sesuai permintaan pasar.
2) Hasil Pengolahan Minyak Bumi
a) Kelompok BBM (Bahan Bakar Minyak):
Avgas, Premium, Pertamax, Pertamax Plus, Avtur, Kerosin, Ado (Automotif
Diesel Oil), IDO (Industrial Diesel Oil), IFO (Industrial Fuel Oil).
b) Kelompok Non-BBM:
Gas (LPG), Pelumas, Lilin< Cat, Aspal.
c) Kelompok Petrokimia:
Paraksilena, Metanol, dan PTA (Purified Terephthalic Acid).
b. Gas
Bumi
Gas Bumi adalah senyawa hidrokarbon ringan berupa gas yanf terakumulasi
dalam batuan reservoar. Di alam terdapat 3 jenis gas bumi:
1) Associated gas, yaitu gas yang didalam reservoar terlarut
dalam minyak bumi sehingga berbentuk cair, gas ini dihasilkan sebagai gas
ikutan pada produksi minyak bumi. Gas ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong
minyak keatas dari dalam bumi.
2) Non Associated gas, yaitu gas yang didalam reservoir sudah
berbentuk gas. Gas ini merupakan hasil dari dari sumur gas bumi dan biasanya
baru diproduksikan bila pemanfaatannya sudah jelas
3) Kondensat, yaitu gas yang didalam reservoir berbentuk
gas, namun setelah sampai dipermukaan karena terpengaruh perbedaan tekanan dan
suhu, berubah menjadi cair.
a) LPG ( Liquefied Petroleum Gas)
LPG merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran hidrokarbon dengan
propane (C3H8) dan buatan (C4H10) sekitar 99% yang dicairkan.Elpiji (LPG)
adalah merk dagang Liquefied Petroleum Gas yang dipasarkan di Indonesia. LPG
sebagai bahan bakar lebih menguntungkan karena:
1) Pembakarannya sempurna, jadi tidak berasap
2) Tidak berjelaga, sehingga dapur dan
alat-alatnya tetap bersih
3) Tidak menimbulkan polusi, sehingga merupakan
energy bersih dan ramah lingkungan.
b) LNG (Liquefied Natural Gas)
LNG adalah gas bumi yang dicairkan.Natural gas (gas alam atau gas bumi)
adalah campuran hidrokarbon (HC) ringan (C1C1) yang berasal dari dalam bumi
berupa gas dengan komposisi utama kurang lebih 85% metana (CH4), kurang lebih
10% etana (C2H6). Gas bumi merupakan gas yang tak berwarna, tak berbau dan
mudah terbakar.
Keuntungan LNG
a) LNG dapat disimpan dalam bentuk cair dengan
volume yang kecil dan mudah diuapkan kembali
b) LNG merupakan bahan bakar bersih sehingga
ramah lingkungan
c) LNG mempunyai nilai kalor tinggi, sehingga
lebih ekonomis
d) LNG seperti halnya gas bumi, dapat dijadikan
bahan baku untuk industri petrokimia.
3.
Peranan Minyak dan Gas Bumi dalam Pembangunan
Migas merupakan sumber daya alam strategis
tidak terbarukan yang dikuasai oleh negara serta merupakan komoditas vital yang
menguasai hajat hidup orang banyak, migas mempunyai peranan penting dalam
perekonomian nasional, sehingga pengelolaannya harus dapat secara maksimal
memberikan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Minyak dan gas bumi juga
digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dan produk-produk Petrokimia seperti
Poli Propilena, Poli Etilena, Poli Stirene, Butadiena, dan lain-lain.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Provinsi Sumatera Selatan
Provinsi Sumatera Selatan luasnya 109.254 Kilometer
persegi yang beribukota di Palembang yang berbatasan dengan sebelah Utara Laut
Cina Selatan, disebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Bengkulu,
disebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Lampung, disebelah Timur
berbatasan dengan Laut Jawa. Beberapa suku yang ada di Sumatera Seltan antara
lain suku Komering, Palembang, Pasemah, Semenda, Ranau Kisan, Ogan dan
Lematang. Beraneka ragam kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat provinsi
Sumatera Selatan. Dengan adanya jembatan Ampera membuat citra Sumatera semakin
khas.
2.
Minyak
dan Gas Bumi
Sejarah perminyakan di Indonesia baru berawal pada tahun
1885. Namun dengan demikian minyak dan gas bumi sudah banyak memberikan sumbangan
yang besar untuk pembangunan negeri ini. Adalah tugas kita untuk memanfaatkan
secara arif minyak dan gas bumi ini untuk generasi kini dan genarasi yang akan
mendatang. Karena minyak dan gas bumi adalah sumber enegri yang tidak dapat
diperbaharui, untuk menjadi sebuah minyak dan gas bumi harus melewati beberapa
tahapan yang tidak singkat dan memerlukan banyak tenaga.
B.
Saran
Saran kami
sebagai penulis adalah hendaknya dalam mempelajari Geografi hendaknya kita
tidak hanya melihat dari letak geografis suatu daerah saja, tetapi kita harus
melihat pula social dan buadaya yang ada di daerah dan juga perekonomian suatu
dearah tersebut dari berbagai macam suku dan budaya yang ada di masing-masing
daerah di Indonesia. Dalam Minyak dan Gas Bumi harusnya kita secara arif dapat
menggunakan sumber daya alam yang tak terbarukan tersebut. Kita harus
mencari-cari alternatif untuk menggantikan minyak dan gas bumi, agar apabila
suatu saat nanti minyak dan gas bumi habis, kita tidak sengsara.
DAFTAR
PUSTAKA
Badan Pusat
Statistik Provinsi Sumatera Selatan. 2007. Sumatera Selatan dalam Angka Tahun 2007 (halaman 222-223).
Biro humas museum Graha Widya Patra, “Lembar Informasi: Museum Minyak Dan Gas Bumi
Taman Mini Indonesia Indah”. Jakarta: Biro humas museum Graha Widya Patra,
2006.
Biro Humas Provinsi Sumatera Selatan. “Lembar Informasi: Anjungan Daerah Sumatera
Selatan. Taman Mini Indonesia Indah”. Jakarta: Biro Humas Anjungan Sumatera
Selatan. Tanpa Tahun.
http://amperawisata digital.info/peta.php (28 Mei 2012)
RAN Kesra Pembangunan Manusia Indonesia 2010-2014
Renstra BAPPEDA Provinsi Sumatera Selatan
2008-2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar