BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber daya
alamnya (SDA) baik dari hasil laut, dan bumunya dan letaknya yang geografis
dengan tanah yang subur maka itu tidak heran lagi jika banyak negara-negara
tetangga yang bedatangan baik untuk sekedar berdagang maupun memulikinya
(menjajah) dan menyabarkan agama yang dipercayainya baik agama Yahudi, Nasrani,
maupun Islam.
Dan bahkan sejarah telah mencatat semua agama itu
disisarkan dan dan dikembangkan oleh para pembawanya yang disebut dengan utusan
Tuhan dan meyakini atas apa yang diperintahkan-Nya bahkan para penyabar tidak
menghiraukan dekat jauh tempat yang ditujunya misalnya di Indonesia.
Lewat makalah ini pemakalah mencoba membahas tentang apa
yang ada di Negara Indonesia yang tercinta yaitu tentang sejarah masukya islam
di Indonesia, perkambangan serta para tokoh yang berpengaruh setika itu,
mudah-mudahan dengan makalah yang akan kami sajikan ini dapat bermanfa'at bagi
kita semua. Amiiin
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah sejarah masuknya isalm di
Indonesia ?
2.
Bagaimanakah Perkembangan studi islam
di Indonesia ?
3.
Siapa sajakah Tokoh-tokoh yang
berpengaruh dalam perkembangan islam di Indonesia?
C.
Tujuan Masalah
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar
pembaca memahami perkembangan studi islam di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Berita Islam di
Indonesia telah diterima sejak orang Venesia (Italia) yang bernama Marcopolo
singgah di kota Perlak dan menerangkan bahwa sebagian besar penduduknya telah
beragama Islam. Sampai sekarang belum ada bukti tertulis tentang kapan tepatnya
Islam masuk ke Indonesia. Namun banyak teori yang memperkirakannya.
Dari sekian
perkiraan, kebanyakan menetapkan bahwa kontak Indonesia dengan Islam sudah
terjadi sejak abad ke 7 M, Ada yang mengatakan bahwa Islam pertama kali masuk
di Indonesia di Jawa, dan ada yang mengatakan di Barus.ada yang berpendapat
bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui pesisir Sumatera.
Untuk
selanjutnya siapa yang memperkenalkan Islam di Indonesia itu? Ada yang
mengatakan bahwa Islam di bawh ke Indonesia oleh para pedangan ada yang
mengatakan bahwa kekuasaan (konversi) keraton sangat berpengaruh bagi
pengislaman di Indonesia. Masuknya islam penguasa akan diikuti oleh rakyatnya
secara cepat. Dapat dikatakan bahwa Islam pada mulanya diperkenalkan oleh para
pedagang muslim yang melakukan kontak dagang dengan penduduk setempat pada
akhirnya dapat menarik hati penduduk setempat untuk memeluk Islam. Pada masa
awal, saudagar-saudagar muslim dikenal cukup mendominasi perdangangan dengan
Indonesia.
Kehadiran
pedangang-pedagang muslim melahirkan fenomena kota-kota perdangangan sebagai
pusat ekonomi, yang pada akhirnya mendukung kegiatan bagia pengembangan
Islam.
Di samping itu
penyebaran Islam di Indonesia adalah dengan metode kekuasan, yang mempunyai
peran penting bagi perluasan Islam di Indonesia. Beralihnya agama penguasaa
menjadi muslim akan diikuti rakyat dan pendukungnya secara cepat. Setelah
berdirinya kerajaan islam, biasanya sang penguasa mempelopori berbagai
kegiatan keagamaan, mulai dari dakwa Islam, pembangunan masjid, sampai
penyelenggaraan pendidikan Islam.
Dapat dikatakan
bahwa jalan yang ditempuh oleh para pedangan muslim dalam menyebarkan agama
Islam di Indonesia antara lain melalui jalur atau salurann perdagangan,
perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian dan politik.
Dari sekian
perkiraan, kebanyakan menetapkan bahwa kontak Indonesia dengan Islam sudah
terjadi sejak abad ke 7 M. Islam masuk ke Indonesia melalui dua jalur yaitu
1.
Jalur Utara dengan rute : Arab (Mekkah dan Madinah),
Damaskus, Bagdad, Gujarat (Pantai Barat India), Srilanka dan Indonesia.
2.
Jalur Selatan dengan rute : Arab (mekkah dan Madinah),
Yaman, Gujarat, Srilanka dan Indonesia.
Dearah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki
Islam adalah panatai Sumatra bagian Utara. Dalam waktu yang tidak terlalu lama
Islam telah tersebar keseluruh bagian pelosok kepulauan Indonesia, sehingga
mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam. Hal ini disebabkan antara lain
sebagai berikut:
1.
Adanya dorongan kewajiban bagi setiap muslim, khususnya
para ulama untuk berdakwah menyiarkan siar Islam.
2.
Adanya kesungguhan hati dan keuletan para juru dakwah
untuk menyiarkan siar Islam.
3.
Persyaratan untuk memasuki Islam sangatlah mudah
4.
Dalam ajaran Islam tidak ada system kasta dan
diskriminasi, sehungga mudah menarik simpati rakyat
5.
Banyak raja-raja Islam yang ada di berbagai wilayah
Indonesia ikut turut berperan aktif dalam dakwah Islamiyah.
Ada teori yang
menyatakan bahwa islam itu ada di Indonesia akibat para pedagang. Dapat
dikatakan bahwa Islam pada mulanya diperkenalkan oleh para pedagang muslim yang
melakukan kontak dagang dengan penduduk setempat. Yang akhirnya dapat menarik
hati penduduk setempat untuk memeluk Islam. Pada mulanya, saudagar-saudagar
muslim dikenal cukup mendominasi perdangangan dengan Indonesia. Kehadiran
pedagang-pedagang muslim melahirkan fenomena kota-kota perdangangan sebagai
pusat ekonomi, yang pada akhirnya mendukung kegiatan bagi pengembangan Islam.
Metode
penyebaran Islam di Indonesia adalah dengan metode kekuasan. Artinya orang yang
mempunyai peran penting bagi perluasan Islam di Indonesia ialah orang yang
memiliki kekuasaan di daerah setempat. Dengan beralihnya agama penguasa
setempat menjadi muslim, maka peralihan agama tersebut juga akan diikuti oleh
rakyat dan pendukungnya secara cepat. Setelah beralihnya agama di daerah
tersebut, kemudian berdirilah suatau kerajaan yang dinamakan sebagai kerajaan islam, biasanya sang penguasa
mempelopori berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari dakwa Islam, pembangunan
masjid, sampai penyelenggaraan pendidikan Islam.
Ada beberapa
jalur masuknya Islam ke Indonesia antara lain melalui jalur:
1.
Perdagangan
Pada masa awal
masuknya islam ke Indonesia adalah dengan perdangagan, dimana kesibukan lalu
lintas perdangagan terjadi pada abad ke 7 hingga 16 M .
2.
Perkawinan
Dari sudut
ekonomi, para pedangagang muslim memiliki status ekonomi yang lebih baik,
sehingga para putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar
itu dan sebelum nikah mereka di Islamkan dahulu.
3.
Tasawuf
Para pengajar
tasawuf atau sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengan jalan yang sudah
dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
4.
Pendidikan
Islamisasi
dengan saluran ini misalnya dilaksanakan di pondok-pondok pesentren yang
diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai dan ulama-ulama. Pada awal abad ke
15 M pesantren telah didirikan oleh para penyebar agama Islam, di antaranya
Walisongo. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam di Indonesia
didirikan, agama Islam semakin tersebar sehingga dapat dikatakan
lembaga-lembaga itu merupakan anak panah penyebaran Islam di Jawa. Di samping
itu ada juga yang dinamakan surau, yakni lembaga pendidik Islam tradisional di
Sumatra Barat. Di Minangkabau istilah surau telah digunakan sebelum datangnya
Islam di Indonesia. Surau merupakan tempat yang dibangun Islam di Indonesia.
5.
Kesenian
Pada waktu itu
di Nusantara terdapat beberapa pusat kesenian dan kesusastraan Melayu. Dari
pusat-pusat kesenian dan kesusastraan tersebut lahirlah kesusastraan Melayu
klasik dan terciptalah genre-genre kesenian yang mengandung makna islami di
pusat-pusat itu.
6.
Politik
Di Maluku,
Sulawesi Selatan, rakyat masuk Islam setelah rajanya masuk Islam, maka kerajaan
Isalam berusaha menguasai kerjaan non Islam, sehingga secara politis banyak
menarik penduduk kerajaan non Islam untuk masuk Islam.
Pada awal abad
ke 15 M pesantren telah didirikan oleh para kpenyebar agama Islam, di antaranya
Walisongo. Dengan semakin banyaknya lembaga pendidikan Islam di Indonesia
didirikan, agama Islam semakin tersebar sehingga dapat dikatakan
lembaga-lembaga itu merupakan anak panah
penyebaran islam di Jawa.
Di samping itu
ada juga yang dinamakan surau, yakni lembaga pendidik Islam tradisional di Sumatra
Barat. Di Minangkabau istilah surau telah digunakan sebelum datangnya Islam di
Indonesia. suarau merupakan tempat yang dibangun islan di Indonesia.
Jadi dapat
disimpulkan bahwa surau sebelum datangnya Islam adalah bagian dari kebudayaan
masyarakat Minangkabau. Surau dibangun oleh suku Indu untuk berkumpul, rapat,
dan tempat tidur bagi pemuda-pemuda, kadang-kadang bagi mereka yang sudah kawin
dan orang-orang tua yang sudah uzur.
B.
Faktor-faktor Penyebab Berkembangnya
Islam di Indonesia
Perkembangan
penyiaran agama islam termasuk paling dinamis dan cepat kalau dibandingkan
dengan agama-agama lainya. Hal tersebut diukur dengan kurun waktu yang
sebanding dan dengan sikon alat komunikasi dan transportasi yang sepadan. Dan
tepatnya pada zaman usman bin affan islam telah masuk di negeri-negeri bgian
timur sampai ke tiongkok yang dibawa oleh para pedagang zaman dinasti Tang.
Penyebaran Islam tersebut di sebabkan adanya faktor-faktor khusus yang dimiliki
oleh Islam pada. Faktor-faktor Khusus itu antara lain ialah Faktor ajaran Islam
itu sendiri. Ajaran Islam, baik pada bidang akidah, syariah dan akhlaknya mudah
di mengerti oleh semua lapisan masyarakat, dapat diamalkan secara luwes dan
ringan, selalau memberikan jalan keluar dari kesulitan.
Ada dua faktor
utama yang menyebabkan indonesia mudah di kenal oleh bangsa-bangsa lain.
Khususnya oleh bangsa-bangsa timur tengah dan timur jauh sejak dahulu kala,
yaitu:
1.
Faktor letak geografis yang strtregis,
indonesia terletak di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur
tengah menuju tiongkok, melalui lautan dan jalan menuju benua amerika dan
australia.
2.
Faktor kesuburan tanahnya yang
menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang di butuhkan oleh bangsa-bangsa
lain. Misalnya : rempah-rempah.
Oleh karena itu
tidak mengherankan jika masuknya islam di indonesia ini terjadi tidak
terlalu jauh dari zaman kelehiranya dan kita harus bisa membedakan antara
datangnya orang islam yang pertama di Indonesia misalnya:sudah berpuluh-puluh
tahun yang lalu orang yahudi yang menetap dan berdagang dikota-kota besar
Indonesia tetapi sampai saat ini tidak pernah ada gerakan penyiar agama yahudi
di Indonesia sehigga orang mengangap agama yahudi di Indonesia belum masuk ke
Indonesia.
Dan kalau benar
agama islam dalam arti para pedagang islam telah masuk ke tiongkok pada zaman
khalifah usman,maka tidak mustahil jika ada pedagang islam yang mampir atau
menetap di Indonesia sekitar zaman itu dan menyebarkan agama yang di bawanya.
C.
Pekembangan Islam di Berbagai
Pulau Indonesia
1.
Sumatra
Daerah pertama dari kepulauan Indonesia yang dimasuki
Islam adalah Sumatra bagian Utara seperti Pasai dan Perlak. Para Pedagang dari
India yakni bangsa Arab, Persia dan Gujarat yang merupakan mubalig Islam banyak
yang menetap dibandar-bandar sepanjang Sumut. Mereak menikah dengan
wanita-wanita pribumi yang sebelumnya telah di Islamkan, sehingga terbentuklah
keluarga-keluarga Muslim. Para mubalig Islam pada waktu itu, tidak hanya
berdakwah kepada para penduduk biasa,
tetapi juga kepada raja-raja kecil hinga berdirilah kejaraan Islam pertama
yaitu Samudra Pasai.
2.
Jawa
Islam mulai masuk kepulau jawa tidak dapat diketahui
dengan pasti. Namun nisan makam Siti Fatimah Binti Maemunah dapat dijadikan
tonggak awal kedatangan Islam di Jawa. Pertumbuhan masyarakat Muslim disekitar
Majapahit sangat erat kaitannya dengan perkembangan hubungan pelayaran dan
perdagangan yang dilakukan pedagang Islam yang telah memiliki kekuatan politik
dan ekonomi dikerajaan Samudra Pasai dan Malaka. Untuk masa-masa selanjutnya
perkembangan Islam di tanah Jawa dilakukan oelh para ulama dan mubalig yang
kemudian dikenal dengan sebutan Wali Sanga atau Sembilan Wali yaitu
1)
Sunan Mualana Malik Ibrahim / Sunan Gersik
2)
Sunan Ampel
3)
Sunan Bonang
4)
Sunan Giri
5)
Sunan Derajat
6)
Sunan Gunung Jati
7)
Sunan Kudus
8)
Sunan Kalijaga
9)
Sunan Muria
3.
Sulawesi
sejak abad ke 15 M Sulawesi sudah didatangi oleh para
pedagang muslim dari Sumatra, Malaka dan Jawa. Sebagian kerajaan-kerjaan yang
ada di Sulawesi masih memeluk kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Kerjaan yang
paling besar yang ada di Sulawesi adalah Kerajaan Gowa Talo, Bone, dan Sopang.
4.
Kalimantan
Wilayah Kalimantan lekatnya lebih dekat denga pulau
Sumatra dan Jawa, ternyata menerima kedatangan Islam lebih belakangan dibanding
Sulawesi dan Maluku. Sebelum Islam masuk ke Kalimantan terdapat kerajaan Hindu
yang berpusat di negara Dipa, Daha dan Kahuripan yang terletak disungai Nagara
dan Amuntai Kimi.
5.
Maluku dan Sekitarnya
Antara tahun 1400 – 1500M Islam telah masuk dan
berkembang di Maluku. Mereka yang sudah beragama Islam banyak yang pergi ke
Pesantren-pesantren di Jawa Timur untuk mempelajari Islam. Raja-raja Maluku
yang masuk Islam diantaranya Raja Ternate yang kemudian bergelar Sultan Mahrum,
Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaludin, Raja Jailolo yang berganti
nama dengan Sultan Hasanudin, Raja Bacan yang masuk Islam pada tahun 1520 M dan
bergelar Sultan Zaenal Abidin.
D.
Hikmah Perkembangan Islam di Indonesia
1. Masa Penjajahana.
a Peranan Umat Islam Pada Masa
Penjajahan.
Dengan dianutnya agama Islam oleh
masyarakat Indonesia ajaran Islam telah banayak mendatangkan perubahan. Antara lain :
1)
Masyarakta Indonesi dibebaskan dari pemujaan berhala dan pendewaan raja-raja serta dibimbing agar menghambakan diri hanya kepada
Allah YME.
2)
Rasa persamaan dan keadilan yang diajarkan Islam mampu mengubahMasyarakat Indonesia yang dulunya menganut sistem kasta
dan diskriminasi.
3)
Semangat cinta tanah air dan rasa kebangsaan yang didengungkan Islamdengan semboyan “Hubbul Wathan Minal Iman”
4)
Semboyan yang diajarkan Islam yang berbunyi Islam adalah agama yang cintadamai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Mula-mula dengan
cara damai tetapi karenatidak bisa lalu dengan menempuh cara peperangan.
Menurut Islam, berperang dalam rangka mewujudkan dan mempertahankankemerdekaan bangsa, negara dan negara merupakan jihad
pisabilillah yang hukumnyawajib. Umat Islam yang mati dianggap mati syahid yang
imbalannya Surga. Perjuangan mengusir penjajah terus berlanjut sampai kaum
penjajah betul-betul angkatkaki dari bumi Indonesia.
Perlawanan Kerajaan Islam dalam Menentang Penjajahan
1.
Perlawanan
terhadap penjajah Portugis
2.
Perlawanan
terhadap penjajah Belanda
3.
Masa
Perang Kemerdekaana.
Peranan Ulama Islam pada masa perang kemerdekaan. Peranan
Ulama Islam Indonesia pada masa perang kemerdekaan ada dua macam yaitu:
1.
Membina
kader umat Islam, melalui pesantren dan aktif dalam pembinaanmasyarakat
2.
Turut
berjuang secara fisik sebagai pemimpin perang
Peranan
Organisasi dan Pondok Pesantren pada masa Kemerdekaan
1.
Serikat
dagang Islam / Serikat Islam
2.
Muhammadiahvi
3.
Nahdlatul
Ulama
Pada
masa penjajahan Belanda, NU senantiasa berjuang menentang penjajah
dan pernah mengeluarkan pernyataan politik yang isinya :
1)
Menolak
kerja rodi yang dibebankan oleh penjajah kepada rakyat
2)
Menolak
rencana ordonansi tentang perkawinan tercatat-Menolak diadakannya milisi
3)
Menyokong
gapi dalam menuntut indonesia yang memiliki parlemen kepada pemertintah
kolonial belanda.
Masa
Pembangunana. Perana Umat Islam pada Masa Pembangunan dalam upaya
mempertahankan kemerdekaan RI, umat Islam mayoritas penduduk, tampil
dibarisan terdepan dalam perjuangan, baik perjuangan politik maupun
perjuangan diplomasi.
Peranan
organisasi Islam dalam masa Pembangunan.Peranan Muhammadiah dalam pembangunan
antara lain:
1. Melakukan usaha-usaha agar masyarakat Indonesia berilmu
pengetahuantinggi, berbudi luhur dan bertaqwa kepada tuhan YME
2. Melakukan usaha-usaha dibidang kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat. NU, yang pernah berkifrah dibidang politik dalam
perkembangan selanjutnya NU bergerak dibidang agama, sosial dan
kemasyaraktan. Usaha-usaha NU antara lain: Mendirikan
madrasah-madrasah-Mendirikan, mengelola, dan mengembangkan
pesantren-pesantren-Membantu dan mengurusi anak-anak yatim dan fakir miskin MUI
adalah organisasi keilmuan yang bersifat independen tidak beraviliasi kepada
salahsatu aliran politk, mazhab atau aliran keagamaan Islam yang ada di
IndonesiaAdapun peranan MUI pada masa pembangunan adalah :
1)
Memberikan
fatwa dan nasihat keagamaan dalam masalah sosialkemasyarakatan kepada
pemerintah dan umat Islam di Indonesia pada umumnya,sebagai amar ma’ruf nahyi
munkar dalam usaha meningkatkan ketahanan sosial.
2)
Memperkuat
ukhuah Islamiyah dan melaksanakan kerukunan antar umat beragama dalam
mewujudkan persataun dan kesatuan nasional.
MUI adalah penghubung antara ulama dan umara serta menjadi penerjemahtimbal
balik antara pemerintah dan umat Islam Indonesi guna
menyukseskan pembangunan nasional.Pada masa pembangunan ini terdapat pula
organisasi Islam yang menampung pada cendekia muslim yang di sebut ICMI.
ICMI lahir pada Desember 1990 dan berkifrah pada hampir semua aspek
kehidupan bangsa.
Peranan Lembaga Pendidikan dalam PembangunanLembaga-lembaga pendidikan di
Indonesia ada yang didirikan dan dikelolalangsung oleh pemerintah Depag
seperti: MIN, MTsN, MAN, IAIN. Sealin itu, adapaula lemabaga-lembaga pendidikan
Islam yang dikelola oleh swasta,tapi dibawah pengawasan serta pembinaan Depag,
seperti: Bustanul Athfal, MI, MTs,MA dan perguruan tinggi lainnya.
Peranan kelembagaan Islam dalam pembangunan antara lain:
1. Melakukan usaha-usaha agar masyarakat Indonesia bertaqwa
kepada tuhanYME
2. Menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara-Memupuk
persataun dan kesatuan umat-Mencerdaskan bangsa Indonesia
3. Mengadakan pembinaan mental spiritual
E.
Perkembangan
Studi Islam di Indonesia
a) Lembaga
Pendidikan Islam sebelum kemerdekaan Indonesia
Pada akhir abad ke 19 perkembangan pendidikan Islam di Indonesia mulai
lahir sekolah model Belanda: sekolah Eropa, sekolah Vernahuler. Sekolah khusus
bagi ningrat Belanda, sekolah Vernahuler khusus bagi warga negara Belanda. Di
samping itu ada sekolah pribumi yang mempunyai sistem yang sama dengan
sekolah-sekolah Belanda tersebut, seperti sekolah Taman Siswa
Pendidikan
Islam mulai dan berkembang pada awal abad ke-20 Masehi dengan berdirinya
madrasah Islamiyah yang bersifat formal. Yang melatar belakangi munculnya lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
yaitu pada awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid merupakan satu-satunya
pusat berbagai kegiatan, baik kegiatan keagamaan, sosial kemasyarakatan,
termasuk kegiatan pendidikan. Bahkan kegiatan pendidikan yang berlangsung di
masjid dan masih bersifat sederhana kala itu sangat dirasakan oleh masyarakat
muslim, maka tidak mengherankan apabila mereka menaruh harapan besar kepada
masjid sebagai tempat yang bisa membangun masyarakat muslim yang lebih baik.
Awal mulanya masjid mampu menampung kegiatan pendidikan
yang diperlukan masyarakat. Namun karena terbatasnya tempat dan ruang, mulai
dirasakan tidak dapat menampung animo masyarakat yang ingin belajar. Maka
dilakukanlah berbagai pengembangan secara bertahap hingga berdirinya lembaga
pendidikan Islam yang secara khusus berfungsi sebagai sarana menampung kegiatan
pembelajaran sesuai dengan tuntutan masyarakat saat itu. Dari sinilah mulai
muncul istilah surau, meunasah
dan pesantren.
1.
Surau
Istilah surau sebagai lembaga
pendidikan Islam muncul di Minangkabau, bahkan istilah ini sudah dikenal
sebelum datangnya Islam. Surau dalam sistem adat Minangkabau adalah kepunyaan
suku atau kaum sebagai pelengkap rumah gadang yang berfungsi sebagai tempat
bertemu, berkumpul, rapat, dan tempat tidur bagi anak laki-laki yang telah akil
baligh dan orangtua yang uzur. Karena menurut ketentuan adat Minangkabau bahwa
laki-laki yang tak punya kamar di rumah orangtua mereka, diharuskan tidur di
surau. Kenyataan ini menyebabkan surau memiliki peranan penting dalam
pendewasaan generasi Minangkabau; baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan
praktis lainnya.
Setelah Islam datang, fungsi
surau tidak berubah, hanya saja fungsi keagamaannya semakin penting yang
diperkenalkan pertama kali oleh Syeikh Burhanuddin di Ulakan, Pariaman. Pada
masa itu, eksistensi surau di samping sebagai tempat shalat juga digunakan
Syekh Burhanuddin sebagai tempat mengajarkan ajaran Islam, khususnya tarekat
(suluk) yang dikenal dengan nama tarekat Sattariyah. Melalui tarekat ini, Syekh
Burhanuddin menanamkan ajaran Islam kepada masyarakat luas di sekitar Minangkabau.
Semula, lembaga pendidikan
surau ini hanya mengajarkan metode membaca Al-Qur’an dan beberapa ilmu Islam
seperti aqidah, akhlak, dan ibadah. Waktunyapun dilaksanakan pada malam hari
dengan sistem halaqah. Namun secara bertahap sesuai perkembangan zaman,
eksistensi surau sebagai lembaga pendidikan Islam mengalami kemajuan, termasuk
waktu pelaksanaan kegiatan belajar tidak lagi hanya pada malam hari saja, tapi
sudah dilakukan pada siang hari. Dan sedikitnya ada dua jenjang pendidikan
surau pada era ini, yaitu:
1) Pengajaran Al-Qur’an
Untuk mempelajari Al-Qur’an
ada dua macam tingkatan, yakni
a. Pendidikan Rendah, materi pelajaran pada
pendidikan rendah ini mencakup:
pelajaran memahami ejaan huruf Al-Qur’an dan
membaca Al-Qur’an yang dilaksanakan dengan metode praktik dan latihan
1. pelajaran cara berwudhu dan tata cara
shalat yang dilakukan dengan metode praktik dan menghafal
2. pelajaran tentang keimanan, terutama yang
berhubungan dengan sifat dua puluh yang dipelajari dengan metode menghafal
melalui lagu
3. pelajaran akhlak yang dilakukan dengan
metode cerita tentang Nabi-Nabi dan orang-orang shaleh.
b. Pendidikan Atas
Materi pelajaran
pada pendidikan atas ini mencakup pendidikan membaca Al-Qur’an dengan lagu,
kasidah, barzanji, tajwid, dan kitab perukunan. Lama pendidikan untuk kedua
jenis pendidikan tersebut tidak ditentukan. Seorang siswa baru dapat dikatakan
tamat bila ia telah mampu menguasai setiap materi yang diajarkan dengan baik.
2) Pengajian Kitab
Materi pendidikan
pada jenjang ini meliputi: ilmu nahwu dan shorf, ilmu fikih, ilmu tafsir, dan
ilmu-ilmu lainnya. Metode pengajarannya adalah dengan membaca sebuah Kitab Arab
dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, setelah itu baru diterangkan
maksudnya. Adapun penekanan pembelajaran pada jenjang ini mengandalkan kekuatan
hafalan. Maka agar siswa mampu menghafal dengan cepat, metode pengajarannya
dilakukan melalui cara melafalkan materi dengan lagu-lagu.
Sebagai lembaga
pendidikan Islam, posisi surau sangat strategis baik dalam proses pengembangan
Islam maupun pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam. Bahkan surau telah mampu
mencetak para ulama besar Minangkabau dan menumbuhkan semangat nasionalisme,
terutama dalam mengusir penjajah Belanda. Namun, seiring perkembangan zaman,
metode pengajaran surau dianggap sudah ketinggalan zaman, sehingga harus
dimodernisasi. Maka tak heran, bila pendidikan surau saat ini sangat sulit
dijumpai.
2. Meunasah
Istilah meunasah sebagai
lembaga pendidikan Islam dikenal pada masyarakat Aceh. Sebagian orang
mengatakan bahwa istilah meunasah ini berasal dari kata Arab, yaitu Madrasah.
Meunasah secara fisik merupakan satu bangunan yang terdapat di setiap gampong
yang berbentuk seperti rumah panggung tetapi tidak mempunyai jendela dan
bagian-bagian lain. Bangunan ini digunakan sebagai tempat belajar dan
berdiskusi serta membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan
kemasyarakatan. Sama seperti kebiasaan anak laki-laki di Minangkabau yang
tinggal di surau, maka para anak muda serta laki-laki yang belum menikah di
Aceh juga menjadikan meunasah sebagai tempat bermalam mereka. Di sinilah
anak-anak sejak usia dini di gampong, dididik dengan berbagai ilmu pengetahuan
agama dan kemasyarakatan.
Meunasah dipimpin oleh seorang
teungku meunasah. Biasanya, setiap kampung di Aceh memiliki minimal satu
meunasah. Gampong yang memiliki beberapa meunasah, tetap dipimpin oleh satu
teungku, sebagai pasangan dua sejoli dengan keuchik. Maksudnya, walau dalam gampong
terdapat beberapa meunasah, kedudukan keuchik dan teungku meunasah tetap
seperti ayah dan ibu (yah dan ma) yang memiliki tugas dan wewenang
masing-masing serta saling membantu satu sama lain.
Mengenai peran meunasah,
Syofwan Idris (2001) sebagaimana yang dikutip oleh Sulaiman Tripa dalam artikel
yang dimuat di http://www.acehinstitute.org menyebutkan bahwa Meunasah
sebenarnya bukan saja lembaga pendidikan tetapi merupakan lembaga yang banyak
sekali fungsinya dalam masyarakat gampong. Di sini orang mengaji, berjama’ah,
bermusyawarah, mengadili pencuri, mengadakan dakwah, mengadakan kenduri,
sebagai pos keamanan dan tempat tidur anak muda yang belum kawin, dan duda yang
berpisah dengan isterinya. Dan lembaga seperti ini memberikan pendidikan yang
sangat komprehensif, aktual dan terpadu kepada anak-anak.
Sebenarnya dalam budaya adat
Aceh, peran meunasah dan masjid merupakan satu kesatuan yang tak pernah bisa
dipisahkan. Kedua lembaga ini merupakan simbol/logo identitas keacehan yang
telah berkontribusi fungsinya membangun pola dasar SDM masyarakat menjadi satu
kekuatan semangat yang monumental, historis, herois dan sakralis. Fungsi
lembaga ini memiliki muatan nilai-nilai aspiratif, energis, Islamis, menjadi
sumber inspiratif, semangat masyarakat membangun penegakan keadilan dan
kemakmuran serta menentang kedhaliman dan penjajahan. Fungsi-fungsi itu antara
lain :
- Fungsi Meunasah, sebagai tempat ibadah/shalat berjamaah; dakwah dan diskusi; musyawarah/mufakat; penyelesaian sengketa/damai; pengembangan kreasi seni; pembinaan dan posko generasi muda; forum asah terampil/olahraga; serta sebagai pusat ibukota/pemerintahan gampong.
- Fungsi Mesjid, sebagai tempat ibadah/Jum`at; pengajian pendidikan; musyawarah/ penyelesaian sengketa/damai; dakwah; pusat kajian dan sebaran ilmu; acara pernikahan; serta sebagai simbol persatuan dan kesatuan umat.
Dari poin-poin di atas
menunjukkan bahwa fungsi meunasah dan masjid memiliki peran yang sama, yakni
sebagai lembaga pengkaderan dan pembinaan umat yang diharapkan mampu melahirkan
generasi serta masyarakat berkualitas guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat
yang aman damai, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Sebagai lembaga pendidikan
tingkat dasar, keberadaan meunasah sangat mempunyai arti di Aceh. Semua
orangtua memasukkan anaknya ke meunasah. Dengan kata lain, meunasah merupakan
madrasah wajib belajar bagi masyarakat Aceh masa lalu. Oleh karena itu,
tidaklah mengherankan apabila orang Aceh mempunyai fanatisme agama yang tinggi.
Dan bahkan hingga saat ini, eksistensi meunasah tetap dipertahankan sebagai
lembaga pendidikan Islam non formal.
Selain meunasah, di Aceh juga
sudah ada dan berkembang sejak lama lembaga pendidikan Islam yang bernama
“Dayah”. Dayah adalah kata yang digunakan untuk sebuah lembaga pendidikan Islam
yang sama dan setara dengan pesantren. Dan sehubungan dengan kesamaan makna dan
fungsi antara dayah dan pesantren, maka untuk pembahasan mengenai “dayah” akan
penulis rangkumkan dalam pembahasan pesantren.
3. Pesantren
Menurut asal katanya,
pesantren berasal dari kata santri yang mendapat imbuhan awalan pe dan akhiran
an yang menunjukkan tempat. Dengan demikian, pesantren artinya tempat para
santri. Sedangkan menurut Sudjoko Prasojo bahwa Pesantren adalah lembaga
pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non-klasikal, dimana
seorang kiayi mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan
kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan
para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. Bagi masyarakat
Aceh, istilah pesantren lebih dikenal dengan nama “dayah”.
Pesantren adalah lembaga
pendidikan Islam asli Indonesia dan memiliki akar sangat kuat dalam kehidupan
masyarakat. Keberadaan sistem pendidikan pesantren bahkan telah ada jauh
sebelum kedatangan Islam di negeri ini, yaitu pada masa Hindu-Budha. Pada saat
itu pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang berfungsi mencetak
elit agama Hindu-Budha. Sehingga dalam hal ini tak heran bila C.C. Berg
berpendapat bahwa istilah “santri” itu berasal kata India Shastri, berarti
orang-orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang sarjana ahli
kitab suci Agama Hindu. Kata Shastri sendiri berasal dari kata shastra yang
berarti buku-buku suci, buku-buku Agama atau pengetahuan. Terlepas benar
tidaknya istilah tersebut, yang jelas kehadiran lembaga pendidikan pesantren
tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat Islam hingga saat ini, serta telah
menjadi pusat berlangsungnya proses pembelajaran ilmu-ilmu keislaman bagi
masyarakat Indonesia. Bahkan dalam perspektif kependidikan, pesantren merupakan
satu-satunya lembaga pendidikan yang tahan terhadap berbagai arus modernisasi.
Dengan kata lain, pesantren dapat memposisikan dirinya sebagai lembaga
pendidikan yang mampu bersaing dan sekaligus bersanding dengan sistem
pendidikan modern yang bermunculan dari waktu ke waktu.
Bertitik tolak dari akar
sejarah pesantren atau sebut saja asal-usul pesantren tidak bisa dipisahkan
dari sejarah pengaruh Walisongo abad 15-16 di Jawa. Pesantren merupakan lembaga
pendidikan Islam yang unik di Indonesia. Walisongo adalah tokoh-tokoh penyebar
Islam di Jawa abad 16 – 15 yang telah berhasil mengkombinasikan aspek-aspek
sekuler dan spiritual dalam memperkenalkan Islam pada masyarakat. Keunikan yang
dimaksud adalah
Hampir semua pesantren di
Indonesia ini dalam mengembangkan pendidikan kepesantrenannya berkiblat pada
ajaran Walisongo. Kemudian seiring perkembangan zaman dan keilmuwan yang
dimiliki oleh para pendiri pesantren sesudahnya, maka corak pesantren-pesantren
di Indonesia mulai terlihat bervariasi.
Meski begitu, secara umum
ciri-ciri pesantren dapat kita lihat sebagai berikut:
1.
ada
Kiyai, yang mengajar dan mendidik;
2.
ada
santri, yang belajar dari kiyai;
3.
ada
masjid, tempat untuk menyelenggarakan pendidikan, shalat berjamaah dan
sebagainya; dan
4.
ada
pondok, tempat untuk tinggal para santri.
Di samping ciri-ciri di atas,
ada juga pesantren yang memiliki fasilitas-fasilitas pendukung lainnya, seperti
sarana olahraga dan ruang keterampilan dan pelatihan, yang tentunya disesuaikan
dengan kebutuhan dan kemampuan pesantren itu sendiri.
Mengenai materi pelajaran dan
metode pengajaran, biasanya pesantren mengajarkan kitab-kitab dalam bahasa
Arab, materi tersebut mencakup pelajaran Al-Qur’an, tajwid serta tafsir, aqa’id
dan ilmu kalam, fiqih dan ushul fiqh, hadits dan musthalahul hadits, bahasa
Arab dengan ilmu-ilmu qawaidhnya, tarikh, mantiq dan tasawuf. Dan metode yang
digunakan adalah metode ceramah, hafalan, bahkan ada juga yang menggunakan
sistem klasikal dengan metode pembelajaran yang bervariasi. Di beberapa
pesantren, ada yang selain memberikan pelajaran dan pendidikan agama, juga
memberikan wiridan, seperti Naqsabandiyah, Syatariyah, dan lain-lain. Ada pula
yang menambahkan kegiatan-kegiatan di luar pendidikan formal, seperti pramuka,
ketrampilan, olahraga dan sebagainya, sesuai kemampuan masing-masing pondok
pesantren. Meski begitu, satu hal yang sama dari pondok-pondok pesantren
tersebut adalah pada penekanan pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang
menjadi ciri khas dari pesantren tersebut.
Selain itu, ada beberapa ciri
dan keunikan yang sangat menonjol dalam kehidupan pesantren, sehingga
membedakannya dengan sistem pendidikan lainnya. Sedikitnya ada delapan ciri
pendidikan pesantren tersebut, yaitu:
- Adanya hubungan yang akrab antara santri dan kiayi.
- Tunduknya santri kepada kiyai.
- Hidup hemat dan sederhana.
- Semangat hidup mandiri.
- Jiwa tolong menolong dan suasana persaudaraan.
- Penekanan pada pendidikan disiplin.
- Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan.
- Santri memperoleh kehidupan agama yang baik
b) Lembaga Pendidikan Islam sesudah Indonesia
Merdeka
Setelah Indonesia merdeka dan
mempunyai Departemen Agama, maka secara instantional Departemen Agama diserahi
kewajiban dan bertanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan pendidikan
agama dalam lembaga-lembaga tersebut. Lembaga pendidikan agama islam ada yang
berstatus negeri dan ada yang berstatus swasta seperti :
1. Madrasah
Ibtidaiyah Negeri (Tingkat Dasar)
2.
Madrasah Tsawiyah Negeri (Tingkat
Menengah Pertama)
3.
Madrasah Aliyah Negeri (tingkat
Menengah Atas). Dahulunya berupa Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) dan
Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN)
4.
Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri
(PTAIN) yang kemudian berubah menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri)
F.
Tokoh-tokoh
pendidikan Islam di Indonesia
Penyebaran dan
perkembangan kebudayaan islam di Indonesia terutama terletak pada pundak para
ulama setelah para pedagang-pedagang dan pelayar. Ada dua cara yang ditempuh
oleh para ulama : pertama, membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas
sebagai bubaligh ke daerah-daerah yang lebih luas.cara ini di praktikkan di
lembaga-lambaga pendidikan seperti pesantren islam. Kedua: melalui karya-karya
yang tersebar luas dan di baca oleh masyarakat umum di berbagai tempat.
Karya-karya ini mencerminkan perkembangan dan ilmu-ilmu agama di indomesia pada
saat ini. Ada beberapa ilmuan atau tokoh yang berperan ketika itu yaitu hamzah
fansuri ,syamsyudin al-sumatrani ,nuruddin al-raniri, abdul rauf singkel, dan
lainnya. Ulama-ulama diataslah yang banyak memperkenalkan pemikiran
tasawuf,filsafat,dan ilmu kalam.
Adapun
tokoh-tokoh yang populer di Indonesia dalam lembaga pendidikan yaitu :
1. Kyai Haji Ahmad Dahlan (1869 – 1923)
K.H Ahmad
Dahlan dilahirkan di Yogyakarta pada tahun 1869 M dengan nama kecilnya Muhammad
Darwis, putra dariKH.Abubakar Bin Kyai Sulaiman, Khatib di masjid besar (jami’)
Kesulitan Yogyakarta, Ibunya adalah puteri Haji Ibrahim seorang penghulu.
2.
Kyai Haji Hasyim Asy’ari (1871-1947)
K.H. Hasyim
asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari tahun 1981 M di Jombang Jawa Timur,
mula-mulai ia belajar agama Islam pada ayahnya sendiri Kyai Asy’ari Kemudian ia
belajar ke pondok pesantren Purbalinggo. Kemudian pindah lagi ke Plangitan,
Semarang, Madura, dan lain-lain.
Maka di bawah
pimpinan KH. Ilyas dimasukkan pengetahuan umum ke dalam Madrasah Salafiyah,
yaitu:
1. Membaca dan
menulis huruf latin
2. Mempelajari
bahasa Indonesia
3. Mempelajari
ilmu bumi dan sejarah Indonesia
4. Mempelajari
ilmu berhitung
3. KH Abdul Halim
(1887 – 1962)
KH. Abdul Halim lahir di Ciberelang, Majalengka pada
tahun 1887 M. Dia adalah pelopor gerakan pembaharuan di daerah Majalenga, Jawa
Barat, yang kemudian berkembang menjadi persyerikatan Ulama, dimulai pada tahun
1911, yang kemudian berubah menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) pada tanggal 5 April
1952 M/9 Rajab 1371 H.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perkembangan studi Islam di Indonesia
dapat digambarkan demikian. Bahwa lembaga atau sistem pendidikan islam di
Indonesia mulai dari sistem pendidikan langgar, kemudian sistem pesantren,
kemudian berlanjut dengan sistem pendidikan di kerajaan-kerajaan Islam,
akhirnya muncul sistem kelas.
Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7.
islam di
Indonesia di bawa oleh para pedagang dan para nelayan yang berlayar di perairan
iandonesia. Untuk sarana dan system yang di gunakan pada saat itu adalah sangat
tradisional . Islam tersebar melalui pundak para ulama yang berperan penuh
terhadap perkembangan pendidikan islam.
Setelah Islam
datang ke Indonesia banyak perubahan-perubahan yang terjadi terutama bagi
rakyat yang menengah ke bawah. Mereka lebih di hargai dan tidak tertindas lagi
karena Islam tidak mengenal sistem kasta, karena semua masyarakat memiliki
derajatyang sama.Islam juga membawa perubahan-perubahan baik di bidang politik,
ekonomi danagama. Islam juga bisa mempersatukan seluruh masyarakat Indonesia
untuk melawandan memgusir para penjajah.
B. Saran
Kami
yakin dalam penulisan makalah ini banyak sekali kekurangannya. Untuk itu kami
mohon kepada para pembaca agar dapat memberikan saran, kritikan, ataumungkin
komentarnya demi kelancaran tugas ini
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Syalaby, History of Muslim Education, Beirut:
Dar-alKassyaf,1954
Daulay, Haidar Putra, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan
Pendidikan Islam di Indonesia,Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2007
Haningsih, Sri, Peran Strategis Pesantren, Madrasah dan
Sekolah Islam di Indonesia, Jurnal Pendidikan Islam El-Tarbawi, No. 1, vol. I, 2008
Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta:
Pustaka Al Husna, 1992
Muh. Thalhah
hasan, Dinamika Pemikiran Pendidikan
Islam, Jakarta Lantabora Press, 2006
Mubarak Zakky, Menjadi
Cendikiawan muslim, Jakarta: PT Maghenta Bhakti Guna, 2007
Nawawi Hadari, Pendidikan dalam Islam, Surabaya:
Al-Ikhlas, 1993
Nata Abuddin, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT.
Raja Grafika Persada, 2004
Nasution
khoirudin, pengantar studi islam. Yokyakarta: Academia, 2007
Subhan, Arief, Mencari Titik Tolak:
Asal Usul Pesantren, Ciputat:
Jurnal Madrasah Vol 2, No. 4, 1999
Tripa, Sulaiman, Meunasah, Ruang Serbaguna Masyarakat Aceh, Aceh Institute: Riset & Artikel,
http://www.acehinstitute.
Dalam Sistem Sosial Masyarakat Aceh, Aceh Forum Community: http://www.acehforum.or.id
org
Yunus Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT.
Hidakarya Agung, 1992
Zuhairin, Sejarah
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksare, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar