Selasa, 03 Juli 2012

epistemologi islam

                                                                         BAB I
PENDAHLUAN

A.    Latarbelakang Masalah
Sebagai akibat dari epistemologi Barat yang mengistimewakan peranan manusia dalam memecahkan segala sesuatu dan dalam waktu bersamaan menentang dimensi spiritual yang kemudian menjadi  sumber utama krisis epistemologi yang berimplikasi pada krisis pengetahuan, maka ada upaya untuk mencari pemecahan dengan mempertimbangkan epistemologi lain. Dikalangan pemikir Muslim menawarkan pemecahan itu dengan epistemoligiIslam. Mereka sedang mencoba menggagas bangunan epistemologi Islam tersebut yang di formulasikan berdasarkan Al Qur’an dan Al Sunnah sebagai wahyu Tuhan. Jadi gagasan epistemologi Islam merupakan respons kreatif terhadap tantangan-tantangan mendesak dari ilmu pengetahuan modern yang mebahayakan kehidupan dan keharmonisan manusia sebagai akibat epistimologi Barat.
Gagasan epistemology Islam itu bertujuan untuk memberikan ruang gerak bagi umat Muslim khususnya, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman ilmu pengetahuan yang berdasarkan epistemologi Barat perlu diluruskan untuk menghindari kesalahpahaman dan tindakan yang lebih parah lagi. Dalam dataran idealism, gagasan membentuk epistemology Islam adalah upaya penyelamatan umat dari keterjebakan intelektual, tetapi secra konseptual formulasi-fomulasi yang ditawarkan bisa saja diperdebatkan secara serius.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pandangan Islam melihat ilmu pengetahuan modern dalam Epistemologi ?
2.      Apakah Pengertian Epistemologi Islam ?
3.      Apakah cirri-ciri ilmu pengetahuan menurut Islam dalam Epistemologi ?
4.      Perbedaan Epistemoligi Islam dengan Epistemologi Barat ?



C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pandangan Islam dalam melihat ilmu pengetahuan modern dalam epistemology
2.      Untuk mengetahui pengertian Epistemoligi islam
3.       Untuk mengetahui cirri-ciri Ilmu pengetahuan Islam dalam Epistemologi
4.      Untuk mengetahui perbedaan epistemology Islam dengan Epistemologi Barat

























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Epistimologi
Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub dari filsafat. System filsafat disamping meliputi epistemology, juga meliputi ontology dan aksiologi. Epistemology adalah teori pengetahuan, yaitu membahasa tetang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Ketika mambicarakan epistemology bebrarti kita sedang menekankan bahasan tetang upaya, cara atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan.
Dari sini setidaknya didapatkan perbedaan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemology adalah akiticitas yang paling mampu mengembangkan kreatifitas kelimuan disbanding ontology dan aksiologi. Oleh karena itu, kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemology.
Epistemology juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Dalam filsafat, banyak konsep pemikiran para filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemology. Penguasaan epistemology, terutama cara-cara memperoleh pengetahuan sangat membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bagunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri.

B.     Konsep Ilmu Pengetahuan
Ada beberapa Istilah yang diapakai untuk menyebutkan ilmu pengetahuan , seperti ilmu, pengetahuan, al-‘ilm dan sains. Dalam konteks Islam, sains tidak menghasilkan kebenaran absolut. Isltilah yang paling tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘lim, karena miliki dua komponen yaitu:
1.      Bahwa sumeber aslim seluruh pengetahuan adalah wahyu atau Al Qur’an yang mengadung kebenaran absolut
2.      Bahwa metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama valid, semua yang menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas yang sangat bermanfaat
Wahyu sebegai sumber asli seluruh pengetahuan memberikan kekuatan yang sangat besar terhadap bagunan pengetahuan bila mapu mentransformasikan bebragai bentuk ajaran normative-doktriner menjadi teori-teori yang bisa diandalkan. Disini jelas bahwa al-‘ilm memiliki cakupan yang lebih luas dari pada sains. Kosenp al-‘ilm malampaui wilayah-wilayah yang bisa dijadikan pemetaan secara sistemik. Maka tidak heran, jika elemen-elemen  yang diuji melalui system nilai untuk mengetahui kadar kegunaan bagi peningkatan kesejahteraan manusia lahir dan batin.
Dikalangan Muslim telah memiliki landasan teologis, bhawa surah al-‘alaq: 1-5 diterima sebagai informasi bahwa Allah SWT. Itulah sumber segala ilmu yang kemudian diajarkan kepada manusia. Mereka manyakini asal ilmu ityu adalah Allah sendiri, Pencipta alam semesta yang diperuntukkan bagi hambaNya. Sedangkan ilmuan adalah butiran-butiran ilmu dalam tataran sistemik yang dusebut manusia dalam mana-nama yang disepakati bersama demi kemudahan menggunakannya.
Islam memenadang bahwa sumber utama imlu adalah Allah. Selanjutnyta, Allah member kekuatan-kekuatan kepeda manusia. Secara terinci, Islam mengakui bahwa sumber atau saluran ilmu lebih banyak dari sekedar yang diakui oleh Ilmuwan Barat. Al-Syaibany mengatakan, bahwa pengalaman langsung, pemerhatian dan pengamatan indera hanya sebagian dari sumber-sumber tersebut. Banyak lagi yang lain dan barang kalai yang paling penting dan paling menonjol adalah percobaan-percobaan ilmiah yang halus dan teratur.
Indera diakui sebagai sumber pengetahuan, walaupun hasilnya paling rendah kualitasnya. Sedangkan unsure-unsur indera yang mandapat perhatian Al Qur’an sehubungan dengan kapasitasnya sebagai sumber pengetahuan adalah pendengaran dan penglihatan. Irfan Akhmad Khan menyatakan, bahwa menurut anjuran Al Qur’an sumber-sumber pengetahuan pada dasarnya ada tiga, yaitu sama’ (pendengaran), basar (penglihatan) dan fu’ad (hati).
Pengetahuan yang dihasilkan oleh indera disebut pengetahuan empiric. Ilmu dalam Islam berdasarkan intelek, yang mengarahkan rasio untuk membentuk ilmu yang bertopang pada kesadaran dan keimanan terhadap kekuasaan Allah SWT. Inilah ilmu yang menjadi petunjuk (hidayah) dari kegelapan menuju terang. Suatu ilmu mengenban misi kesejahteraan hidup manusia, didunia maupun akhirat. Ilmu dalam Islam memiliki persepsi bahwa Tuhan sebagai pencipta sedang manusia sebagai makhluk atau hamba, tetapi makhluk yang bisa mencapai derajat tinggi bila mampu memfungsikan potensi akalnya.
Atas dasar persepsi ini, kita harus selalu tamil ke tingkat pengetahuan yang benar tetang Islam dan pandangan dunia Islam, sehingga pengetahuan tentang ilmu-ilmu apa pun yang dapat kita cari akan senantiasa berada dalam keseimbangan yang wajar dengan pengetahuan tetang Islam dan pandangan dunia Islam sesungguhnya, untuk memelihara tata aturan pengetahuan dalam diri kita. Keseimbangan ini berfungsi menjabatani kepentingan hubungan vertikal (berorientasi pada pendekatan diri kepeda Allah dengan hubungan horizontal (sesama manusia dalam jalinan hubungan social terutama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan).
Keseimbangan tersebut selanjutnya mengakibatkan adanya klasifikasi atau kategorisasi pengetahuan. Dari segi sumber pengetahuan dan alat memperolehnya, pengnetahuan data dibagi menjadi pengetahuan saintifik, pengetahuan logika, pengetahuan intuisi dan pengnetahuan perasaan, pengetahuan ilham dan Kasyaf, dan pengetahuan yang diwahyukan. Konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam yang memiliki cirri khas tersendiri yang berbeda dengan konsep sains dalam pandangan ilmuan Barat. Konsep ilmu menurut Islam ini ketika dihadapkan pada perkembangan dan aplikasi sains modern sekarang ini mendorong ilmuan Muslim cenderung melakukan islamisasi ilmu pengetahuan guna meluruskan penyimpangan-pengnyimpangan sain Barat.

C.    Islamisasi Ilmu pengetahuan
Hegemoni sains dan teknologi Barat atas mesyarakat negara-negara di seluruh dunia membawa pengaruh yang sangat besar terhadap gaya, corak dan pandangan kehidupan masyarakat. Mereka seperti tak sadarkan diri mengikuti pola-pola pemikiran dari sains Barat, sehingga cara-cara berpikirnya, cara pandangannya dan persepsinya terhadap sains dan hal-hal terkait yang menjadi implikasinya menjadi terbaratkan.
Dalam sejarahnya, sains Barat modern dibangun atas dasar semangat kebebasan dan penentangan terhadap doktrin ajaran Kristen, sehhungga ia mencoba menampilkan pola berpikir yang berlawanan dengan tradisi pemikiran agama (Kristen) sebagai antithesis. Misi yang paling menyolok yang disiapkan ke dalam sains Barat modern itu adalah sekulerisasi. Konsep sekulerisasi disosialisasikan dan dipropagandakan sedemikian rupa dikalangan para ilmuan, mahasiswa, pelajar, kelompok-kelompok intelektual lainnya, dan masyarakat pada umumnya, untuk mendapatkan pembenaran-pembenaran secara ilmiah. Pada akhirnya, konsep sekulerisasi ilmu pengetahuan itu menjadi opini public pada tingkat global.
Ada beberapa kelompok masyarakat yang paling dirugikan akibat penerapan konsep sekulerisasi pengetahuan Barat modern itu. Mereka adalah kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki ikatan moral dengan ajaran agamanya, terutama masyarakat Muslim. Pada kenyataannya, masyarakat Muslim seolah dipaksa untuk melaksanakan ajaran sekuler dalam seluk beluk kehidupan lantaran derasnya arus sekularisasi. Secara riil sekarang ini mereka semakin menjauhi nilai-nilai religious Islam. Kondisi inilah yang menjadi keprihatinan para pemikir Muslim, sebab bisa membehayakan keimnan (akidah) Islam.
Berkaitan dengan itu, mereka sedang menggagas islamisasi pengetahuan sebagai upaya untuk menetralisir pengaruh sains Barat modern sekaligus menjadikan Islam sebagai paradigm ilmu pengetahuan. Sebagai tindak lanjut para pemikir Muslim harus berupaya keras merumuskan islamisasi pengetahuan sacara teoritis dan konseptual yang didasarkan pada gabungan antara argumentasi rasional dan petunjuk-petunjuk wahyu.
Upaya islamiasi pengetahuan ini memiliki tujuan yang jelas, yakni secara substansial adalah untuk meluruskan pemikiran-pemikiran orang Islam dari penyelewengan-penyelewengan sains modern yang sengaja ditanamkan. Tujuan ini sebenarnya merupakan proses memformulasikan islamisasi pengetahuan agar langkah-langkah yang ditempuh para ilmuan Muslim dapat terarah mencapai sasaran yang tepat dan benar. Suatu pandangan dunia islam pertama-yama haruslah diupayakan apabila berbagai lapangan khusus dari upaya-upaya intelektual yang dikoherensikan sebagai dijiwai oleh Al Qur’an.
Berdasarkan fungsi Al Qur’an dan sunnah dalam kegiatan berpikir manuasi Muslim, maka tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat mengklaim dirinya sepenuhnya islami, bila metodologi yang digunakan tetap berakar dari paradigm sains modern. Dalam kenyataan kebenaran objektif  bisa berhadapan dengan kebenara yang objektif secara berlawanan. Ini berbeda dengan kebenaran yang ditunjukkan oleh wahyu. Kebenaran yang digariskan Al Qur’an itu sifatnya kokoh, pasti dan mutlak, sehingga tidak bisa ditandingi oleh kebenaran lainnya.
Hanya saja para ilmuan dan pemikir Muslim dibebani untuk mencari atau menggali bukti kebenaran itu. Sedangkan kebenaran sudah ada, tinggal menelusuri bukti-buktinya. Usaha islamisasi pengetahuan tidak akan memiliki makna yang signifikan, jika tidak dilanjutkan dengan merumuskan epistemology Islam. Tetapi sebelum merumuskan epistemology Islam kiranya perlu mengenali karakter ilmu dalam Islam.

D.    Karakteristik Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam
Ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam tidak bertolak belakang secara menyeluruh dengan ilmu pengetahuan Barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan dan perbedaan. Titik persamaannya antara keduanya itu menunjukkan, gahwa keberadaannya diterima secara universal. Misalnya, indera diakuli oleh Islam sebagai salah astu media mendapatkan pengetahuan. Ihwan Al-Shafa menegaskan, bahwa sesungguhnya seluruh pengetahuan diusahakan, sedangkan dasar usahanya itu adalah penginderaan.
Sementara itu, objek pemikiran yang ada pada akal bukanlah sesuatu tanpa ada lambing-lambang yang dapat diindera. Namun, dalam keadaan kemampuan manusia untuk mengumpulkan fakta terbatas, maka kebenaan ilmiah pun selalu dapat salah atau keliru. Bersamaan dengan itu fakta atau data pun tidak selamanya menampakkan diri sebagaimana ada sebenarnya.
Demikian pula yang  tejadi pada akal manusia. Islam mengakui akal manusia sebagai salah satu sumber atau sarana untuk mendapatkan pengetahuan. Tetapi sebagaimana indera, akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan, sehingga membutuhkan bantuan. Jadi, indera dan akal diakui sebagai sumber atau sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi keduanya tidak bisa dimutlakkan. Akhirnya ilmu dalam Islam dirancang dan dibangun disamping melalui kedua sumber tersebut juga berdasarkan kekuatan spiritual yang bersumber dari Allah melalui wahyu.



1.    Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dewasa ini, keprihatinan mulai mundul dikalangan pemikir Muslim terhadap watak sain modern Barat dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Sains ini telah dirasakan membahayakan umat Islam khususnya. Mereka bisa digiring menjadi komunitas yang tidak mamiliki kepekaan social sama sekali. Mereka selalu diarahkan untuk bersikap individual dan manggunakan parameter-peremeter kebendaan dalam mengukur kebahagiaan seseorang. Sains tersebut mengalami krisis yang sangat parah.
Mengingat bahwa ilmu dan filsafat tersebut diperoleh dengan bantuan spiritual, maka baik metode maupun objek pemikiran ilmu pengetahuan dalam Islam lebih luas dan lebih bervariasi, dari pada yang dialami oleh sains modern Barat. Ilmu dalam Islam memiliki metode tersendiri yang tidak dimiliki oleh sains Barat.pa objek pemikirannya peranan kekuatan spiritual sangat besar, bhakan dominan sekali, karena akal manusia hanya menerima terhadao ketentuan-ketentuan dari Allah.
Intelek manusia tidak miliki tempat untuk dibandingkan dengan wahyu sebagai petunjuk bagi asal sifat sesuatu dan bentuk kehidupan yang priaktis dari individu dan masyarakat yang harus menerima konsekuensi sifat itu. Tetapi intelektual manusia dan wahyu Tuhan masih  memperoleh keterhubungan sifat dalam pandangan yang kita harus menerima fakta-fakta berikut sebagai benar dan mengandung semua kontroversi yang rumit:
a.       Wahyu Tuhan itu tidak dapat diterima, kecuali kalau akal kita menunjukkan pada intuisi atau keyakinan yang betul-betul bersifat ketuhan dan benar
b.      Wahyu Tuhan itu terdiri atas pembicaraan eksternal atau tulisan kata-kata yang selalu dikonversikan kedalam makana atau masuk ke dalam perasaan pendengar atau pembaca sebelum mereka dapat dipercaya atau ditaati
c.       Wahyu member pandangan yang benar tetang alam manusia dan alam semesta, serta intelektual manusia dalam bentuk filsafat yang berusaha melakukan hal yang sama
Dalam kehidupan masyarakat modern seharusnya diperkuat upaya memperoleh kebenaran agama dam akal agar ada keseimbangan. Berpikir filsafat dan berpikir ilmiah tidak boleh dibuang dalam kehidupan masyarakat modern. Akan tetapi manusia tidak boleh meninggalkan kebenaran agama yang datangnya dari Allah. Sebagai kebenaran mutlak yang tidak akan berubah sepanjang zaman.

2.    Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan hubungan yang harmonis anatara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan, karena terdapat titik temu. Oleh karena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya diformulasikan dan dibangun malalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu. Akal berusaha berkerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu, sedangkan wahyu dating member bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal. Maka ilmu dalam Islam memiliki sumber yang lengkap apalagi ketika dibandingkan dengan sains Barat.
Jika kita perhatikan dalam ilmu terdapat banyak dogma, sedangkan dalam agama masih terdapat sikap rasional dan inklusif. Hanya saja pandangan dan kesan secara umum memang masih mempertentangkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pertentangan ini dapat diungkapkan secara ringkas sebagai berikut:
a.      Kalau dalam bidang agama terdapat sifat statis, didalam bidang ilmiah terdapat sifat dinamis
b.      Kalau di dalam agama terdapat sikap tertutup, di dalam ilmiah terdapat sikap terbuka
c.      Kalau di dalam  agama terdapat sikap emosional, di dalam ilmiah terdapat sikap rasional
d.     Kalau di dalam agama terdapat sikap yang sangat terikat pada tradisi, di dalam ilmiah teradapat sikap mudah melanggar tradisi
e.      Kalau di dalam agama terdapat sikap sukar dan sulit menerima pembaruan atau modernisai, di dalam ilmiah terdapat sikap mudah meneriama perubahan dan modernisasi.
Pertentangan tersebut menunjukkan, bahwa selama ini terjadi pemahan dikotomik mengenai agama dan ilmu pengetahuan. Agama dianggap penuh dengan kondisi negative, sedangkan ilmu pengetahuan penuh dengan kondisi positif. Oleh karena itu, menurut M arifin dalam Islam tidak dikenal adanya ilmu pengetahuan yang religious dan non religious (sekuler). Semua ilmi pada hakikatnya berasal dari Allah, sehingga tidak terdapat dokitomi antara religious dan sekuler. Prinsip iini menjadi karakter ilmu pengetahuan dalam Islam.

3.    Interdepedensi Akal dengan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki keterbatasan-keterbatasan penelaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih belum tersusun rapih, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu
Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi dan begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan pengetahuan yang dicpai masing-masing. Dalam proses pemahaman kebenaran, akal dan intuisi harus saling menunjang satu sama lain, pemberian prioritas kepada salah satunya, akan menyesatkan. Dalam menjelaskan fakta, kemempuan rasional akan menjadi lebih dominan.
Dalam kehidupan keseharian manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang apa saja tidak hanya berdasarkan pada sesuatu yang direncanakan dan digagas oleh nalarnya, tetapi tidak jarang manusia itu dapat memperoleh pengetahuan tentang sesuatu hal karena pemberian dan tidak disengaja sama sekali.

4.    Memiliki Orientasi Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari Allha dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains, maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki perhatian yang sangat besar kepada Allah. Jika sains Barat tidak memiliki kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada Allah untuk mencapai kebahagian hakiki.
Oleh karena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya semata-mata berupaya mencapai kemudahan-kemudahan atau kesejahteraan duniawi, tetapi juga kebahagian ukhrawi dengan menjadikan sebagai sarana dalam melakukan ibadah. Tauhid lebih jauh harus diperankan dalam mengendalikan, mengontrol dan mengarahkan kecenderungan-kecenderungan nalar manusia yang selama ini condong bebas dan tak mau terikat oleh siapa pun.

5.    Terikat Nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual, wahyu, intuisi dan memiliki teosentrtis, konsekuensi berikutnya sebagai salah satu cirri ilmu tersebut adalah terkait nilai. Ini sangat membedakan sengan sains Barat, karena semangat teradsi ilmiah Barat senantiasa berusaha menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu sayarat keilmiahan adalah bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan tidak boleh dipengaruhi oelh fakta apa pun.
 Dalam Al Qur’an terdapat banyak macam nilai, terutama jika diamatiu, bahwa ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya kebanyakan bersifat normative sesuai dengan kapasitasnya sebagai kitab petunjuk, buka kitab ilmiah, meskipun ada banyak pernyataannya yang memberikan informasi dan sekaligus inspirasi untuk penuh dengan nilai-nilai. Demikian juga yang terjadi pada hadis shaih.

E.     Epistemology Islam
Epistemology islam perlu dijadikan alternative terutama bagai filosof, pemikir dan ilmuan Muslim untuk menyelamatkan mereka dari keterjebakan ke dalam arus besar di bawah kendali epistemology Barat. Epistemology Islam ini memiliki fungsi yang penting dalam manjaga kehormatan umat Islam. Epistemology ini bisa membangkitkan umat Islam untuk segera mencapai kemajuan ilmu npengetahuan dan secara umum peradaban, memngingat bahwa epistemology tersebut merupakan media atau alat untuk menggali, menemukan dan mengembangkan pengetahuan.
Epistemology Islam ini diharapkan menjadi suatu pendekatan keilmuan yang memiliki kekuatan besar dalam mengenbangkan ilmu pengetahuan baru dan teknologi yang berkepedulian terhadap lingkungan, baik lingkungan geografis, lingkungan social maupun lingkungan budaya. Dengan kata lain, epistemology Islam menjadi media mewujudkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang beradab.
Islam tidak pernah mempertentangkan antara satu macam pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Begitu juga Islam tidak memperhadapkan suatau macam pendekatan epistemology dengan pendekatan lainnya. Islam justru berusaha mengakomodasi berbagai macam pendekatan keilmuan berikut aneka ragam pengetahuan yang dihsilkannya. Penerimaan Islam tehadap berbagai macam pendekatan keilmuan dan hasil-hasilnya sekaligus, karena Islam memandang, bahwa semua pengetahuan berasal dari Allah.

F.     Metodologi Islam
Penggunaan metodologi Islam akan membawa konsekuensi lebih lanjut, pengetahuan yang dicapai dari metodologi ini merupakan pengetahuan yang dipengaruhi oelh nilai-nilai Islam. Pemikiran Islam sekarang sedang asyik dengan permasalahan ilmu pengetahuan dengan metodologinya. Epistemology dan metodologi telah mengisyaratkan perlunya peran teologi dan etika dalam setiap wancana di bidangnya.
Teologi dan etika inilah yang akan mengendalikan langkah-langkah epistemology dan metodologi agar selalu mengarah pada perwujudan pengetahuan yang membawa keharmonisan,  kedamaian dan kesejahteraan alam lingkungan sekitar. Seiring denga perjalanan dan peranan yang bisa dimainkan oleh sains modern Barat, memang telah mencapai prestasi yang mengagumkan.
Kelemahan prestasi yang gemilang di bidang pengembangan intelektual ini tidak disertai oleh kepedulian social yang tinggi, sehingga lingkungan kita menjadi krisis dimensi spiritual. Lingkungan kita menjadi rusak dan hampa dari sentuhan norma-norma teologis dan etika agama. Banyak sekali hasil sains dan teknologi modern yang memiliki kekuatan dahsyat, tetapi dalam waktu yang bersamaan menjadi suatu yang menakutkan masa depan manusia. Kondisi demikian ini karena epistemology dan metodologi yang dipakai menggali pengetahuan dan teknologi itu terlepas sama sekali dari kendalinya, yaitu nilai-nilai ketuhanan dan etika.




BAB II
PENUTUP

Kesimpulan
Epistemology Islam bertujuan untuk memberikan ruang gerak bagi umat Muslim khususnya, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman ilmu pengetahuan yang berdasarkan epistemologi Barat. Dalam dataran idealism, gagasan membentuk epistemology Islam adalah upaya penyelamatan umat dari keterjebakan intelektual. Epistemology menekankan bahasan tetang upaya, cara atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Salah satu karakter ilmu dalam Islam adalah didasarkan hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal.
Dalam kehidupan masyarakat modern seharusnya diperkuat upaya memperoleh kebenaran agama dan akal agar ada keseimbangan. Berpikir filsafat dan berpikir ilmiah tidak boleh dibuang dalam kehidupan masyarakat modern. Akan tetapi manusia tidak boleh meninggalkan kebenaran agama yang datangnya dari Allah. Sebagai kebenaran mutlak yang tidak akan berubah sepanjang zaman. Epistemology Islam menjadi media mewujudkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang beradab.
Islam tidak pernah mempertentangkan antara satu macam pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Teologi dan etika inilah yang akan mengendalikan langkah-langkah epistemology dan metodologi agar selalu mengarah pada perwujudan pengetahuan yang membawa keharmonisan,  kedamaian dan kesejahteraan alam lingkungan sekitar.











DAFTAR PUSTAKA

Aness Ahmad Munawar.  Ilmu yang Mencerahkan.  Diterjemahkan: Agung prihartanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000
Al-Faruqi Islmail Raji. Islamisasi Pengetahuan. Diterjemahkan: Anas Mahyuddin. Bandung: Pustaka. 1984
Al-Attas Syed Muhammad Naquib. Islam dan Filsafat Sains. Diterjemahkan: Saiful Muzani. Bandung: Mizan. 1995
Ali A Mukti. Metodologi Ilmu Agama Islam. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. 1989
Arkoun Mohammed. Nalar Islami dan Nalar Modern. Diterjemahkan: Rahayu S. Hidayat. Jakarta: INIS. 1994
Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi. Bandung: Mizan. 1991
Mulkhan Abdul Munir.  Paradigma Intelektual Muslim Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah.  Yogyakarta: Sipress. 1993
Praja S Juhaya.  Menggali Konsep Manusia Menurut Islam Melalui Metodologi psikologi Islami.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000
Rahardjo M Dawam.  Intelektual, Intelegensia dan prilaku Politik Bangsa: Risalah Cedekiawan Muslim.  Bandung: Mizan. 1993
Sadali Ahmad. Pengembangan Islam Untuk Disiplin Ilmu (IUDI) Suatu Perambahan Langkah-langkah. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1986
Saefuddin. Filsafat Ilmu dan Metodologi Keilmuan. Bandung: Mizan. 1991
Said Usman dan Jalaludin. Filsafat Pendidikan Islam Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1994
Sardar Ziauddin. Dimensi ilmiah Al-‘Ilm. Diterjemahkan: Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudayartanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000














Tidak ada komentar:

Posting Komentar