BAB
I
PENDAHLUAN
A.
Latarbelakang Masalah
Sebagai akibat dari
epistemologi Barat yang mengistimewakan peranan manusia dalam memecahkan segala
sesuatu dan dalam waktu bersamaan menentang dimensi spiritual yang kemudian
menjadi sumber utama krisis epistemologi
yang berimplikasi pada krisis pengetahuan, maka ada upaya untuk mencari pemecahan
dengan mempertimbangkan epistemologi lain. Dikalangan pemikir Muslim menawarkan
pemecahan itu dengan epistemoligiIslam. Mereka sedang mencoba menggagas
bangunan epistemologi Islam tersebut yang di formulasikan berdasarkan Al Qur’an
dan Al Sunnah sebagai wahyu Tuhan. Jadi gagasan epistemologi Islam merupakan
respons kreatif terhadap tantangan-tantangan mendesak dari ilmu pengetahuan
modern yang mebahayakan kehidupan dan keharmonisan manusia sebagai akibat
epistimologi Barat.
Gagasan
epistemology Islam itu bertujuan untuk memberikan ruang gerak bagi umat Muslim
khususnya, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman ilmu pengetahuan yang
berdasarkan epistemologi Barat perlu diluruskan untuk menghindari
kesalahpahaman dan tindakan yang lebih parah lagi. Dalam dataran idealism,
gagasan membentuk epistemology Islam adalah upaya penyelamatan umat dari
keterjebakan intelektual, tetapi secra konseptual formulasi-fomulasi yang
ditawarkan bisa saja diperdebatkan secara serius.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah
pandangan Islam melihat ilmu pengetahuan modern dalam Epistemologi ?
2.
Apakah
Pengertian Epistemologi Islam ?
3.
Apakah
cirri-ciri ilmu pengetahuan menurut Islam dalam Epistemologi ?
4. Perbedaan Epistemoligi Islam dengan Epistemologi Barat ?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk mengetahui pandangan Islam dalam melihat ilmu
pengetahuan modern dalam epistemology
2. Untuk mengetahui pengertian Epistemoligi islam
3. Untuk mengetahui
cirri-ciri Ilmu pengetahuan Islam dalam Epistemologi
4.
Untuk
mengetahui perbedaan epistemology Islam dengan Epistemologi Barat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Epistimologi
Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai
sub dari filsafat. System filsafat disamping meliputi epistemology, juga
meliputi ontology dan aksiologi. Epistemology adalah teori pengetahuan, yaitu
membahasa tetang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin
dipikirkan. Ketika mambicarakan epistemology bebrarti kita sedang menekankan
bahasan tetang upaya, cara atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan.
Dari sini setidaknya didapatkan perbedaan yang cukup
signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemology adalah
akiticitas yang paling mampu mengembangkan kreatifitas kelimuan disbanding
ontology dan aksiologi. Oleh karena itu, kita perlu memahami seluk beluk
diseputar epistemology.
Epistemology juga membekali daya kritik yang tinggi
terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Dalam filsafat, banyak konsep
pemikiran para filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari
pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemology.
Penguasaan epistemology, terutama cara-cara memperoleh pengetahuan sangat
membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bagunan pemikiran
yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri.
B.
Konsep Ilmu Pengetahuan
Ada beberapa
Istilah yang diapakai untuk menyebutkan ilmu pengetahuan , seperti ilmu,
pengetahuan, al-‘ilm dan sains. Dalam
konteks Islam, sains tidak menghasilkan kebenaran absolut. Isltilah yang paling
tepat untuk mendefinisikan pengetahuan adalah al-‘lim, karena miliki dua komponen yaitu:
1. Bahwa sumeber aslim seluruh pengetahuan adalah wahyu atau
Al Qur’an yang mengadung kebenaran absolut
2.
Bahwa
metode mempelajari pengetahuan yang sistematis dan koheren semuanya sama-sama
valid, semua yang menghasilkan bagian dari satu kebenaran dan realitas yang
sangat bermanfaat
Wahyu sebegai
sumber asli seluruh pengetahuan memberikan kekuatan yang sangat besar terhadap
bagunan pengetahuan bila mapu mentransformasikan bebragai bentuk ajaran
normative-doktriner menjadi teori-teori yang bisa diandalkan. Disini jelas
bahwa al-‘ilm memiliki cakupan yang
lebih luas dari pada sains. Kosenp al-‘ilm malampaui wilayah-wilayah yang bisa
dijadikan pemetaan secara sistemik. Maka tidak heran, jika elemen-elemen yang diuji melalui system nilai untuk
mengetahui kadar kegunaan bagi peningkatan kesejahteraan manusia lahir dan
batin.
Dikalangan Muslim
telah memiliki landasan teologis, bhawa surah al-‘alaq: 1-5 diterima sebagai informasi
bahwa Allah SWT. Itulah sumber segala ilmu yang kemudian diajarkan kepada
manusia. Mereka manyakini asal ilmu ityu adalah Allah sendiri, Pencipta alam
semesta yang diperuntukkan bagi hambaNya. Sedangkan ilmuan adalah
butiran-butiran ilmu dalam tataran sistemik yang dusebut manusia dalam
mana-nama yang disepakati bersama demi kemudahan menggunakannya.
Islam memenadang
bahwa sumber utama imlu adalah Allah. Selanjutnyta, Allah member
kekuatan-kekuatan kepeda manusia. Secara terinci, Islam mengakui bahwa sumber
atau saluran ilmu lebih banyak dari sekedar yang diakui oleh Ilmuwan Barat.
Al-Syaibany mengatakan, bahwa pengalaman langsung, pemerhatian dan pengamatan
indera hanya sebagian dari sumber-sumber tersebut. Banyak lagi yang lain dan
barang kalai yang paling penting dan paling menonjol adalah percobaan-percobaan
ilmiah yang halus dan teratur.
Indera diakui
sebagai sumber pengetahuan, walaupun hasilnya paling rendah kualitasnya.
Sedangkan unsure-unsur indera yang mandapat perhatian Al Qur’an sehubungan
dengan kapasitasnya sebagai sumber pengetahuan adalah pendengaran dan
penglihatan. Irfan Akhmad Khan menyatakan, bahwa menurut anjuran Al Qur’an
sumber-sumber pengetahuan pada dasarnya ada tiga, yaitu sama’ (pendengaran),
basar (penglihatan) dan fu’ad (hati).
Pengetahuan yang
dihasilkan oleh indera disebut pengetahuan empiric. Ilmu dalam Islam
berdasarkan intelek, yang mengarahkan rasio untuk membentuk ilmu yang bertopang
pada kesadaran dan keimanan terhadap kekuasaan Allah SWT. Inilah ilmu yang
menjadi petunjuk (hidayah) dari kegelapan menuju terang. Suatu ilmu mengenban
misi kesejahteraan hidup manusia, didunia maupun akhirat. Ilmu dalam Islam
memiliki persepsi bahwa Tuhan sebagai pencipta sedang manusia sebagai makhluk
atau hamba, tetapi makhluk yang bisa mencapai derajat tinggi bila mampu
memfungsikan potensi akalnya.
Atas dasar persepsi
ini, kita harus selalu tamil ke tingkat pengetahuan yang benar tetang Islam dan
pandangan dunia Islam, sehingga pengetahuan tentang ilmu-ilmu apa pun yang
dapat kita cari akan senantiasa berada dalam keseimbangan yang wajar dengan
pengetahuan tetang Islam dan pandangan dunia Islam sesungguhnya, untuk
memelihara tata aturan pengetahuan dalam diri kita. Keseimbangan ini berfungsi
menjabatani kepentingan hubungan vertikal (berorientasi pada pendekatan diri
kepeda Allah dengan hubungan horizontal (sesama manusia dalam jalinan hubungan social terutama dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan).
Keseimbangan
tersebut selanjutnya mengakibatkan adanya klasifikasi atau kategorisasi pengetahuan.
Dari segi sumber pengetahuan dan alat memperolehnya, pengnetahuan data dibagi
menjadi pengetahuan saintifik, pengetahuan logika, pengetahuan intuisi dan
pengnetahuan perasaan, pengetahuan ilham dan Kasyaf, dan pengetahuan yang
diwahyukan. Konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam yang memiliki cirri
khas tersendiri yang berbeda dengan konsep sains dalam pandangan ilmuan Barat.
Konsep ilmu menurut Islam ini ketika dihadapkan pada perkembangan dan aplikasi
sains modern sekarang ini mendorong ilmuan Muslim cenderung melakukan
islamisasi ilmu pengetahuan guna meluruskan penyimpangan-pengnyimpangan sain
Barat.
C. Islamisasi
Ilmu pengetahuan
Hegemoni sains dan
teknologi Barat atas mesyarakat negara-negara di seluruh dunia membawa pengaruh
yang sangat besar terhadap gaya, corak dan pandangan kehidupan masyarakat.
Mereka seperti tak sadarkan diri mengikuti pola-pola pemikiran dari sains
Barat, sehingga cara-cara berpikirnya, cara pandangannya dan persepsinya
terhadap sains dan hal-hal terkait yang menjadi implikasinya menjadi
terbaratkan.
Dalam sejarahnya,
sains Barat modern dibangun atas dasar semangat kebebasan dan penentangan
terhadap doktrin ajaran Kristen, sehhungga ia mencoba menampilkan pola berpikir
yang berlawanan dengan tradisi pemikiran agama (Kristen) sebagai antithesis.
Misi yang paling menyolok yang disiapkan ke dalam sains Barat modern itu adalah
sekulerisasi. Konsep sekulerisasi disosialisasikan dan dipropagandakan
sedemikian rupa dikalangan para ilmuan, mahasiswa, pelajar, kelompok-kelompok
intelektual lainnya, dan masyarakat pada umumnya, untuk mendapatkan
pembenaran-pembenaran secara ilmiah. Pada akhirnya, konsep sekulerisasi ilmu
pengetahuan itu menjadi opini public pada tingkat global.
Ada beberapa
kelompok masyarakat yang paling dirugikan akibat penerapan konsep sekulerisasi
pengetahuan Barat modern itu. Mereka adalah kelompok-kelompok masyarakat yang
memiliki ikatan moral dengan ajaran agamanya, terutama masyarakat Muslim. Pada
kenyataannya, masyarakat Muslim seolah dipaksa untuk melaksanakan ajaran
sekuler dalam seluk beluk kehidupan lantaran derasnya arus sekularisasi. Secara
riil sekarang ini mereka semakin menjauhi nilai-nilai religious Islam. Kondisi
inilah yang menjadi keprihatinan para pemikir Muslim, sebab bisa membehayakan
keimnan (akidah) Islam.
Berkaitan dengan
itu, mereka sedang menggagas islamisasi pengetahuan sebagai upaya untuk
menetralisir pengaruh sains Barat modern sekaligus menjadikan Islam sebagai
paradigm ilmu pengetahuan. Sebagai tindak lanjut para pemikir Muslim harus
berupaya keras merumuskan islamisasi pengetahuan sacara teoritis dan konseptual
yang didasarkan pada gabungan antara argumentasi rasional dan petunjuk-petunjuk
wahyu.
Upaya islamiasi
pengetahuan ini memiliki tujuan yang jelas, yakni secara substansial adalah
untuk meluruskan pemikiran-pemikiran orang Islam dari
penyelewengan-penyelewengan sains modern yang sengaja ditanamkan. Tujuan ini
sebenarnya merupakan proses memformulasikan islamisasi pengetahuan agar
langkah-langkah yang ditempuh para ilmuan Muslim dapat terarah mencapai sasaran
yang tepat dan benar. Suatu pandangan dunia islam pertama-yama haruslah
diupayakan apabila berbagai lapangan khusus dari upaya-upaya intelektual yang
dikoherensikan sebagai dijiwai oleh Al Qur’an.
Berdasarkan fungsi Al
Qur’an dan sunnah dalam kegiatan berpikir manuasi Muslim, maka tidak ada ilmu
pengetahuan yang dapat mengklaim dirinya sepenuhnya islami, bila metodologi
yang digunakan tetap berakar dari paradigm sains modern. Dalam kenyataan
kebenaran objektif bisa berhadapan
dengan kebenara yang objektif secara berlawanan. Ini berbeda dengan kebenaran
yang ditunjukkan oleh wahyu. Kebenaran yang digariskan Al Qur’an itu sifatnya
kokoh, pasti dan mutlak, sehingga tidak bisa ditandingi oleh kebenaran lainnya.
Hanya saja para
ilmuan dan pemikir Muslim dibebani untuk mencari atau menggali bukti kebenaran
itu. Sedangkan kebenaran sudah ada, tinggal menelusuri bukti-buktinya. Usaha
islamisasi pengetahuan tidak akan memiliki makna yang signifikan, jika tidak
dilanjutkan dengan merumuskan epistemology Islam. Tetapi sebelum merumuskan
epistemology Islam kiranya perlu mengenali karakter ilmu dalam Islam.
D. Karakteristik
Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam
Ilmu pengetahuan
dalam pandangan Islam tidak bertolak belakang secara menyeluruh dengan ilmu
pengetahuan Barat. Ada segi-segi tertentu yang merupakan titik persamaan dan
perbedaan. Titik persamaannya antara keduanya itu menunjukkan, gahwa
keberadaannya diterima secara universal. Misalnya, indera diakuli oleh Islam
sebagai salah astu media mendapatkan pengetahuan. Ihwan Al-Shafa menegaskan,
bahwa sesungguhnya seluruh pengetahuan diusahakan, sedangkan dasar usahanya itu
adalah penginderaan.
Sementara itu, objek
pemikiran yang ada pada akal bukanlah sesuatu tanpa ada lambing-lambang yang
dapat diindera. Namun, dalam keadaan kemampuan manusia untuk mengumpulkan fakta
terbatas, maka kebenaan ilmiah pun selalu dapat salah atau keliru. Bersamaan
dengan itu fakta atau data pun tidak selamanya menampakkan diri sebagaimana ada
sebenarnya.
Demikian pula
yang tejadi pada akal manusia. Islam
mengakui akal manusia sebagai salah satu sumber atau sarana untuk mendapatkan
pengetahuan. Tetapi sebagaimana indera, akal juga memiliki
keterbatasan-keterbatasan, sehingga membutuhkan bantuan. Jadi, indera dan akal
diakui sebagai sumber atau sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi keduanya
tidak bisa dimutlakkan. Akhirnya ilmu dalam Islam dirancang dan dibangun
disamping melalui kedua sumber tersebut juga berdasarkan kekuatan spiritual
yang bersumber dari Allah melalui wahyu.
1.
Bersandar Pada Kekuatan Spiritual
Dewasa ini, keprihatinan mulai mundul dikalangan pemikir
Muslim terhadap watak sain modern Barat dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Sains ini telah dirasakan membahayakan umat Islam khususnya. Mereka bisa
digiring menjadi komunitas yang tidak mamiliki kepekaan social sama sekali.
Mereka selalu diarahkan untuk bersikap individual dan manggunakan
parameter-peremeter kebendaan dalam mengukur kebahagiaan seseorang. Sains
tersebut mengalami krisis yang sangat parah.
Mengingat bahwa ilmu dan filsafat tersebut diperoleh
dengan bantuan spiritual, maka baik metode maupun objek pemikiran ilmu
pengetahuan dalam Islam lebih luas dan lebih bervariasi, dari pada yang dialami
oleh sains modern Barat. Ilmu dalam Islam memiliki metode tersendiri yang tidak
dimiliki oleh sains Barat.pa objek pemikirannya peranan kekuatan spiritual
sangat besar, bhakan dominan sekali, karena akal manusia hanya menerima
terhadao ketentuan-ketentuan dari Allah.
Intelek manusia tidak miliki tempat untuk dibandingkan
dengan wahyu sebagai petunjuk bagi asal sifat sesuatu dan bentuk kehidupan yang
priaktis dari individu dan masyarakat yang harus menerima konsekuensi sifat
itu. Tetapi intelektual manusia dan wahyu Tuhan masih memperoleh keterhubungan sifat dalam
pandangan yang kita harus menerima fakta-fakta berikut sebagai benar dan
mengandung semua kontroversi yang rumit:
a. Wahyu Tuhan itu tidak dapat diterima, kecuali kalau akal
kita menunjukkan pada intuisi atau keyakinan yang betul-betul bersifat ketuhan
dan benar
b. Wahyu Tuhan itu terdiri atas pembicaraan eksternal atau
tulisan kata-kata yang selalu dikonversikan kedalam makana atau masuk ke dalam
perasaan pendengar atau pembaca sebelum mereka dapat dipercaya atau ditaati
c.
Wahyu
member pandangan yang benar tetang alam manusia dan alam semesta, serta
intelektual manusia dalam bentuk filsafat yang berusaha melakukan hal yang sama
Dalam
kehidupan masyarakat modern seharusnya diperkuat upaya memperoleh kebenaran
agama dam akal agar ada keseimbangan. Berpikir filsafat dan berpikir ilmiah
tidak boleh dibuang dalam kehidupan masyarakat modern. Akan tetapi manusia
tidak boleh meninggalkan kebenaran agama yang datangnya dari Allah. Sebagai
kebenaran mutlak yang tidak akan berubah sepanjang zaman.
2.
Hubungan yang Harmonis antara Wahyu dan Akal
Karakter ilmu dalam Islam yang kedua adalah didasarkan
hubungan yang harmonis anatara wahyu dan akal. Keduanya tidak dipertentangkan,
karena terdapat titik temu. Oleh karena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya
diformulasikan dan dibangun malalui akal semata, tetapi juga melalui wahyu.
Akal berusaha berkerja maksimal untuk menemukan dan mengembangkan ilmu,
sedangkan wahyu dating member bimbingan serta petunjuk yang harus dilalui akal.
Maka ilmu dalam Islam memiliki sumber yang lengkap apalagi ketika dibandingkan
dengan sains Barat.
Jika kita perhatikan dalam ilmu terdapat banyak dogma,
sedangkan dalam agama masih terdapat sikap rasional dan inklusif. Hanya saja
pandangan dan kesan secara umum memang masih mempertentangkan antara agama dan
ilmu pengetahuan. Pertentangan ini dapat diungkapkan secara ringkas sebagai
berikut:
a. Kalau dalam bidang agama terdapat sifat statis, didalam
bidang ilmiah terdapat sifat dinamis
b. Kalau di dalam agama terdapat sikap tertutup, di dalam
ilmiah terdapat sikap terbuka
c. Kalau di dalam
agama terdapat sikap emosional, di dalam ilmiah terdapat sikap rasional
d. Kalau di dalam agama terdapat sikap yang sangat terikat
pada tradisi, di dalam ilmiah teradapat sikap mudah melanggar tradisi
e. Kalau di dalam agama terdapat sikap sukar dan sulit
menerima pembaruan atau modernisai, di dalam ilmiah terdapat sikap mudah
meneriama perubahan dan modernisasi.
Pertentangan
tersebut menunjukkan, bahwa selama ini terjadi pemahan dikotomik mengenai agama
dan ilmu pengetahuan. Agama dianggap penuh dengan kondisi negative, sedangkan
ilmu pengetahuan penuh dengan kondisi positif. Oleh karena itu, menurut M
arifin dalam Islam tidak dikenal adanya ilmu pengetahuan yang religious dan non
religious (sekuler). Semua ilmi pada hakikatnya berasal dari Allah, sehingga
tidak terdapat dokitomi antara religious dan sekuler. Prinsip iini menjadi
karakter ilmu pengetahuan dalam Islam.
3.
Interdepedensi Akal dengan Intuisi
Dalam tradisi pemikiran Islam, ilmu pengetahuan dibangun
adakalanya atas kerjasama pendekatan akal dan intuisi. Akal memiliki
keterbatasan-keterbatasan penelaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi
yang sifatnya pemberian atau bantuan, sedangkan pemberian dari intuisi masih
belum tersusun rapih, sehingga dibutuhkan bantuan nalar untuk
mensistematisasikan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pemberian itu
Dengan pengertian lain, akal membutuhkan intuisi dan
begitu pula sebaliknya, intuisi membutuhkan akal. Keduanya saling membutuhkan
pengetahuan yang dicpai masing-masing. Dalam proses pemahaman kebenaran, akal
dan intuisi harus saling menunjang satu sama lain, pemberian prioritas kepada
salah satunya, akan menyesatkan. Dalam menjelaskan fakta, kemempuan rasional
akan menjadi lebih dominan.
Dalam kehidupan keseharian manusia dapat memperoleh
pengetahuan tentang apa saja tidak hanya berdasarkan pada sesuatu yang
direncanakan dan digagas oleh nalarnya, tetapi tidak jarang manusia itu dapat
memperoleh pengetahuan tentang sesuatu hal karena pemberian dan tidak disengaja
sama sekali.
4.
Memiliki Orientasi
Teosentris
Bertolak dari suatu pandangan, bahwa ilmu berasal dari
Allha dan ini merupakan salah satu perbedaan mendasar antara ilmu dengan sains,
maka implikasinya berbeda sekali dengan sains, ilmu dalam Islam memiliki
perhatian yang sangat besar kepada Allah. Jika sains Barat tidak memiliki
kepedulian kepada Tuhan, maka ilmu dalam Islam selalu diorientasikan kepada
Allah untuk mencapai kebahagian hakiki.
Oleh karena itu, ilmu dalam Islam tidak hanya semata-mata
berupaya mencapai kemudahan-kemudahan atau kesejahteraan duniawi, tetapi juga
kebahagian ukhrawi dengan menjadikan sebagai sarana dalam melakukan ibadah.
Tauhid lebih jauh harus diperankan dalam mengendalikan, mengontrol dan
mengarahkan kecenderungan-kecenderungan nalar manusia yang selama ini condong
bebas dan tak mau terikat oleh siapa pun.
5.
Terikat Nilai
Mengingat ilmu dalam Islam dipengaruhi dimensi spiritual,
wahyu, intuisi dan memiliki teosentrtis, konsekuensi berikutnya sebagai salah
satu cirri ilmu tersebut adalah terkait nilai. Ini sangat membedakan sengan
sains Barat, karena semangat teradsi ilmiah Barat senantiasa berusaha
menegaskan, bahwa ilmu itu netral atau bebas nilai, tidak boleh terikat nilai
tertentu. Bahkan menurut pandangan Barat, salah satu sayarat keilmiahan adalah
bersifat objektif. Sifat objektif ini berarti menyatakan fakta apa adanya dan
tidak boleh dipengaruhi oelh fakta apa pun.
Dalam Al Qur’an
terdapat banyak macam nilai, terutama jika diamatiu, bahwa ketentuan-ketentuan
yang ada di dalamnya kebanyakan bersifat normative sesuai dengan kapasitasnya
sebagai kitab petunjuk, buka kitab ilmiah, meskipun ada banyak pernyataannya
yang memberikan informasi dan sekaligus inspirasi untuk penuh dengan
nilai-nilai. Demikian juga yang terjadi pada hadis shaih.
E. Epistemology
Islam
Epistemology
islam perlu dijadikan alternative terutama bagai filosof, pemikir dan ilmuan
Muslim untuk menyelamatkan mereka dari keterjebakan ke dalam arus besar di
bawah kendali epistemology Barat. Epistemology Islam ini memiliki fungsi yang
penting dalam manjaga kehormatan umat Islam. Epistemology ini bisa
membangkitkan umat Islam untuk segera mencapai kemajuan ilmu npengetahuan dan
secara umum peradaban, memngingat bahwa epistemology tersebut merupakan media
atau alat untuk menggali, menemukan dan mengembangkan pengetahuan.
Epistemology
Islam ini diharapkan menjadi suatu pendekatan keilmuan yang memiliki kekuatan
besar dalam mengenbangkan ilmu pengetahuan baru dan teknologi yang
berkepedulian terhadap lingkungan, baik lingkungan geografis, lingkungan social
maupun lingkungan budaya. Dengan kata lain, epistemology Islam menjadi media
mewujudkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang beradab.
Islam
tidak pernah mempertentangkan antara satu macam pengetahuan dengan pengetahuan
lainnya. Begitu juga Islam tidak memperhadapkan suatau macam pendekatan
epistemology dengan pendekatan lainnya. Islam justru berusaha mengakomodasi
berbagai macam pendekatan keilmuan berikut aneka ragam pengetahuan yang
dihsilkannya. Penerimaan Islam tehadap berbagai macam pendekatan keilmuan dan
hasil-hasilnya sekaligus, karena Islam memandang, bahwa semua pengetahuan
berasal dari Allah.
F.
Metodologi Islam
Penggunaan metodologi Islam akan membawa konsekuensi
lebih lanjut, pengetahuan yang dicapai dari metodologi ini merupakan
pengetahuan yang dipengaruhi oelh nilai-nilai Islam. Pemikiran Islam sekarang
sedang asyik dengan permasalahan ilmu pengetahuan dengan metodologinya.
Epistemology dan metodologi telah mengisyaratkan perlunya peran teologi dan
etika dalam setiap wancana di bidangnya.
Teologi dan etika inilah yang akan mengendalikan
langkah-langkah epistemology dan metodologi agar selalu mengarah pada
perwujudan pengetahuan yang membawa keharmonisan, kedamaian dan kesejahteraan alam lingkungan
sekitar. Seiring denga perjalanan dan peranan yang bisa dimainkan oleh sains
modern Barat, memang telah mencapai prestasi yang mengagumkan.
Kelemahan prestasi yang gemilang di bidang pengembangan
intelektual ini tidak disertai oleh kepedulian social yang tinggi, sehingga
lingkungan kita menjadi krisis dimensi spiritual. Lingkungan kita menjadi rusak
dan hampa dari sentuhan norma-norma teologis dan etika agama. Banyak sekali
hasil sains dan teknologi modern yang memiliki kekuatan dahsyat, tetapi dalam
waktu yang bersamaan menjadi suatu yang menakutkan masa depan manusia. Kondisi
demikian ini karena epistemology dan metodologi yang dipakai menggali
pengetahuan dan teknologi itu terlepas sama sekali dari kendalinya, yaitu
nilai-nilai ketuhanan dan etika.
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Epistemology Islam bertujuan untuk memberikan ruang gerak
bagi umat Muslim khususnya, agar bisa keluar dari belenggu pemahaman ilmu
pengetahuan yang berdasarkan epistemologi Barat. Dalam dataran idealism,
gagasan membentuk epistemology Islam adalah upaya penyelamatan umat dari keterjebakan
intelektual. Epistemology menekankan bahasan tetang upaya, cara atau
langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Salah satu karakter ilmu dalam
Islam adalah didasarkan hubungan yang harmonis antara wahyu dan akal.
Dalam kehidupan masyarakat modern seharusnya diperkuat
upaya memperoleh kebenaran agama dan akal agar ada keseimbangan. Berpikir
filsafat dan berpikir ilmiah tidak boleh dibuang dalam kehidupan masyarakat
modern. Akan tetapi manusia tidak boleh meninggalkan kebenaran agama yang
datangnya dari Allah. Sebagai kebenaran mutlak yang tidak akan berubah
sepanjang zaman. Epistemology Islam menjadi media mewujudkan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang beradab.
Islam tidak pernah mempertentangkan antara satu macam
pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Teologi dan etika inilah yang akan
mengendalikan langkah-langkah epistemology dan metodologi agar selalu mengarah
pada perwujudan pengetahuan yang membawa keharmonisan, kedamaian dan kesejahteraan alam lingkungan
sekitar.
DAFTAR
PUSTAKA
Aness Ahmad
Munawar. Ilmu yang Mencerahkan. Diterjemahkan: Agung prihartanto. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2000
Al-Faruqi Islmail
Raji. Islamisasi Pengetahuan.
Diterjemahkan: Anas Mahyuddin. Bandung: Pustaka. 1984
Al-Attas Syed
Muhammad Naquib. Islam dan Filsafat
Sains. Diterjemahkan: Saiful Muzani. Bandung: Mizan. 1995
Ali A Mukti. Metodologi Ilmu Agama Islam. Yogyakarta:
PT Tiara Wacana. 1989
Arkoun Mohammed. Nalar Islami dan Nalar Modern. Diterjemahkan:
Rahayu S. Hidayat. Jakarta: INIS. 1994
Kuntowijoyo. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi. Bandung:
Mizan. 1991
Mulkhan Abdul
Munir. Paradigma Intelektual Muslim Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah. Yogyakarta: Sipress. 1993
Praja S Juhaya. Menggali Konsep Manusia Menurut Islam Melalui
Metodologi psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000
Rahardjo M Dawam. Intelektual,
Intelegensia dan prilaku Politik Bangsa: Risalah Cedekiawan Muslim. Bandung: Mizan. 1993
Sadali Ahmad. Pengembangan Islam Untuk Disiplin Ilmu
(IUDI) Suatu Perambahan Langkah-langkah. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1986
Saefuddin. Filsafat Ilmu dan Metodologi Keilmuan.
Bandung: Mizan. 1991
Said Usman dan
Jalaludin. Filsafat Pendidikan Islam
Konsep dan Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
1994
Sardar Ziauddin. Dimensi ilmiah Al-‘Ilm. Diterjemahkan:
Agung Prihantoro dan Fuad Arif Fudayartanto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar